Siti Sunarsih, pedagang kerupuk pasir di Desa Genukwatu mengatakan, lonjakan harga bahan baku pembuatan kerupuk sudah terjadi sejak sebelum Lebaran lalu. ”Sudah lama naiknya, sejak sebelu Lebaran, dan sampai sekarang masih tinggi,” bebernya.
Sejumlah bahan bakau itu, di antaranya tepung terigu. Sebelum Lebaran harganya sekitar Rp 175 ribu per 25 kilogram, sekarang tembus di angka Rp 200 per Rp 25 ribu kilogram. ”Padahal dalam sehari saya biasanya menghabiskan sekitar 6 kuintal tepung, jadi sangat terasa sekali,” imbuhnya.
tidak hanya itu saja, bebannya semakin bertambah lantaran harga bahan baku lainnya juga terus merangkak naik. ”Bahan baku lainnya seperti garam dan bawang juga naik pesat. Garam dulu per saknya sekitar 50 kilogram itu hanya Rp 50 ribu sekarang naik menjadi Rp 300 ribu. Bawang putih juga mengalami kenaikan,” ungkapnya.
Dikarenakan semua kebutuhan harganya naik, ibu empat anak ini terpaksa harus menaikkan harga jualnya. Hal ini agar dirinya tetap bisa bertahan serta bisa membayar upah belasan pegawainya. ”Ya terpaksa saya naikkan harganya. Sebelumnnya harga krecekan Rp 10 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 12 ribu per kilogram,” bebernya.
Ia berharap pemerintah segera menstabilkan harga pangan. Sebab, dampaknya sangat memberatkan pelaku usaha rumahan seperti dirinya. ”Apalagi saya juga harus memikirkan gaji karyawan, kalau dirumahkan kan kasihan,” bebernya.
Dikarenakan harga baku melonjak, secara otomatis ongkos produksi juga melonjak. ”Untung para pelanggan juga paham kalau harganya naik,” katanya.
Meski begitu, dirinya mengaku apabila harga bahan pokok kerupuk pasir turun. Dirinya kembali menurunkan harga krecek kerupuknya. ”Kalau sudah turun ya harga kreceknya juga turun,” pungkasnya.(yan/naz/riz) Editor : Achmad RW