“Hasil pengecekan kemarin memang ada yang rusak, ada juga yang belum ada PJU sejak dulu,” terang Budi Winarno Kepala Dinas Perhubungan Jombang.
Ia menyampaikan, PJU yang padam atau rusak sudah dilakukan penanganan. Lampu yang mati, dinyatalan kembali, kendala kabel juga diperbaiki. “Kalau yang sifatnya padam, sudah diperbaiki,” lanjutnya.
Namun, untuk lokasi yang belum dipasang PJU, pihaknya tak bisa berbuat banyak. Menurut Budi, aset jalan itu adalah aset jalan provinsi, sehingga penganggaran juga wewenang Pemprov Jawa Timur. “Untuk penambahan jumlah PJU bukan kita, secara normatif itu wewenang Pemprov karena jalan provinsi.” tambahnya.
Terlebih, titik yang belum dipasang PJU itu juga cukup panjang. Dari data yang ada, di sepanjang wilayah Jombang, pemasangan PJU di jalur Ploso-Gedek mulai ada sejak jembatan Ploso baru hingga Desa Jatigedong. “Setelah itu mulai masuk Daditunggal tidak ada PJU sama sekali,” tambahnya.
PJU baru terlihat kembali dipasang setelah masuk di Desa Tapen, Kecamatan Kudu. PJU itu berlanjut sampai ujung timur perbatasan Jombang-Mojokerto di Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan. “Jadi ya sementara harap maklum karena memang ada keterbatasan anggaran dan kewenangan,” lontar dia.
Begitupun ketika disinggung soal CCTV, Budi menyebut di sepanjang jalur tidak ada sama sekali CCTV yang terpasang. “Tapi kan kembali lagi keterbatasan anggaran dan kewenangan. Karena CCTV juga butuh jaringan internet,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, belasan kejadian pelemparan batu di jalur Ploso-Gedek, sampai sekarang belum satupun pelaku yang teridentifikasi. Polisi tidak bisa berbuat banyak. Sejumlah kendala dianggap jadi penghambat pengungkapan kasus lempar batu tersebut.
Mulai minim PJU, tidak ada CCTV, jalur yang sepi dan tak banyak saksi yang tahu ciri-ciri pelaku. Beberapa korban juga tak bisa melihat dengan jelas siapa pelaku pelemparan batu tersebut. (riz/bin/riz) Editor : Achmad RW