Pantauan di lokasi, hampir setiap petak sawah sudah banyak tanaman semangka. Rata-rata usia tanaman baru sekitar 15-20 hari tanam. Milik Tu’an salah satunya, tanamannya berusia dua minggu. ”Habis panen padi di sini langsung tanam semangka, nggak ada yang (tanam) padi lagi,” kata Tu’an.
Dikatakan, alasan petani setempat tak kembali menanam padi lantaran terkendala pengairan. Biasanya kebutuhan air untuk mengairi sawah tak cukup. Hingga membuat hasil panen merosot. ”Menngandalkan air dari mesin pompa jelas berat,” imbuh dia.
Meski saat ini terkadang hujan masih mengguyur, tak menyurutkan petani kembali menanam semangka. ”Pokoknya nggak sampai banjir Insya Allah aman,” ujar Tu’an.
Menurut dia, menanam semangka sudah dilakukan sejak lima tahun terakhir. Awalnya dari satu petani kemudian diikuti petani lainnya. ”Sekarang hampir seluruh sawah ditanami semangka. Ada juga sebagian tanam kedelai,” tutur dia sembari menyebut sawah miliknya seluas 4.200 meter persegi.
Diperkirakan Juni hingga awal Juli sudah masuk panen raya. Saat ini tanaman dinilai masih aman. Meski begitu, hama dan penyakit masih mengancam. ”Tanamannya masih muda masih aman, biasanya di atas 30 hari itu mulai ada hama ulat atau penyakit,” kata Tu’an.
Sementara itu Kades Watudakon Suharto tak menampik panen raya padi di wilayah setempat sudah berakhir. Petani kembali menggarap sawahnya dengan menanam semangka. ”Luasnya satu desa hampir 20 hektare di Dusun Watudakon, Jerukwangi dan Dusun Rembukwangi,” kata Suharto.
Berbeda dengan wilayah Dusun Jungkir, kebanyakan petani menanam kedelai dan jagung. ”Karena wilayah setempat berada di dataran rendah yang rentan banjir,” imbuh dia.
Dikatakan, ada banyak faktor petani tak lagi menanam padi. Salah satu faktor utamanya persoalan pengairan. ”Di sini daerah hilir, pengambilan airnya tidak seberapa, sehingga padi hanya setahun sekali,” ujar Suharto.
Sehingga, lanjut dia, petani memutar otak dengan menanam semangka. ”Sudah hampir 6 tahunan tanam semangka. Karena setiap musim tanam dalam satu tahun itu padi, lalu semangka dilanjut tanam jagung,” kata Suharto. (fid/naz/riz) Editor : Achmad RW