Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Unik, Tiang Musala Tua di Jombang ini Dibuat Dari Kendaraan Penjajah Belanda

Achmad RW • Jumat, 24 Februari 2023 | 14:35 WIB
Musala Sunan Giri, Musala tua yang masih berdiri kokokh di Dusun gading, Desa Gadingmangu, Kecamatan Perak
Musala Sunan Giri, Musala tua yang masih berdiri kokokh di Dusun gading, Desa Gadingmangu, Kecamatan Perak
JOMBANG – Sebuah musala tua di Dusun Gading, Desa Gadingmangu, Kecamatan Perak jadi saksi bisu perkembangan Islam. Musala berdiri sebelum Indonesia merdeka ini, hingga kini masih berdiri kokoh. Namanya, adalah Musala Sunan Giri.

Lokasi musala cukup strategis lantaran berada di Jl Raya Gadingmangu. Kesan bangunan tua cukup kuat. Selain dari konsep bangunan yang klasik, juga dari beberapa bagian musala terlihat lawas. Di antaranya terlihat dari bagian pintu musala dari kayu kuno, material genting yang terlihat mulai aus juga dari kontruksi dinding musala yang tebal. Selain itu, teralis besi kuno.

Masuk ke dalam, suasana di dalam musala dua lantai ini sangat sejuk. Lantai dua terbuat dari papan kayu. Ruang utama tidak terlalu luas, hanya sekitar 6,5 meter x 6 meter persegi tanpa sekat permanen. Terdapat beberapa tiang penyangga. Musala Sunan Giri memiliki dua lantai. Namun hanya lantai bawah yang digunakan salat jamaah. ”Ya memang musala tua, dan bangunannya nyaris seluruhnya masih asli, jadi ya memang terlihat mencolok sekali kesan tuanya, kayak loji Belanda,” terang M Abdul Ghoni, pengurus musala.

Ia menerangkan, Musala Sunan Giri dibangun kakek buyutnya sejak sebelum Indonesia merdeka. Selain sebagai tempat ibadah, bangunan ini dulunya juga berfungsi sebagai tempat belajar bagi warga dan anak-anak masyarakat sekitar. ”Pemrakarsanya Mbah Affandi, beliau ini putra KH Abdul Qohar, tokoh masyarakat di sini. Di depan musala ini dulunya juga ada semacam pondokan begitu. Jadi setelah mengaji, biasanya anak-anaknya itu tidur di sini,” lanjutnya.

Bahkan, musala ini juga jadi cikal bakal lahirnya yayasan pendidikan Islam Sunan Giri. ”Cikal bakal yayasan pendidikan Sunan Giri di seberang jalan itu dari sini,” imbuhnya.

Kendati bangunan musala sudah tua, hingga kini bangunannya masih kokoh. Sejak berdiri, bangunan musala sudah pernah direnovasi sekali. ”Renovasi sekitar tahun 1993-1994 kalau tidak salah, itu hanya melebarkan bagian dalam, yang awalnya 5 meter dilebarkan sedikit. Kalau tembok, selasar depan ini, pintu dan jendela ya masih asli semuanya,” rincinya.

Termasuk ruangan dilantai dua, lanjut Ghoni juga masih belum berubah alias masih saat seperti pertama berdiri. ”Kalau yang bawah ini dipakai ibadah biasa dan salat lima waktu. Kalau yang lantai dua itu biasanya kamar khusus, untuk riyadhoh, sejak dulu sampai sekarang masih digunakan,” tambahnya. Meski dulunya dipelopori Mbah Affandi, musala ini kini disebut sudah jadi aset milik masyarakat. ”Kalau sekarang bangunan dan tanahnya sudah diwakafkan ke NU,” pungkasnya.

Photo
Photo
Lima dari enam tiang penyangga serambi ini terbuat dari kendaraan patroli {enjajah belanda yang dirampas pejuang kemerdekaan.

Tiang Serambi Bekas Kendaraan Patroli Belanda

SEBAGAI salah satu musala tua, Musala Sunan Giri di Desa Gadingmangu juga menyimpan sejarah perjuangan warga melawan penjajah Belanda. Di antaranya tiang penyangga serambi depan musala merupakan bekas kendaraan Belanda.

”Jadi besi penyangga depan ini ceritanya dulu dibuat dari mobil atau kendaraan Belanda yang dijarah pejuang kemerdekaan,” terang M Abdul Ghoni, pengurus Musala Sunan Giri.

Menurut cerita turun temurun yang diwariskan di keluarganya, besi-besi itu memang diambil dari kendaraan patroli penjajah Belanda. Penjajah yang saat itu melintas di dekat musala dihentikan dan seluruh awaknya ditahan.

Kendaraannya, kemudian didorong ke kebun dan dipreteli warga. ”Kemudian besinya dipakai sebagai penyangga ini, jadinya ya luar biasa kuatnya ternyata,” lontarnya.

Dari enam titik tiang besi, satu di antaranya sudah diganti baru. ”Jadi dari enam itu, lima masih asli, satu memang sudah patah sehingga diganti,” lanjutnya.

Selain itu, musala ini juga diyakini menyimpan air yang bertuah. Yakni air yang berasal dari sumur di sebelah utara musala ini. ”Sumur itu juga sumur tua, dibangunnya kira-kira tidak jauh berbeda dengan musalanya,” tambah Ghoni.

Sumur ini, tertutup bilah kayu yang bisa dibuka ketika diperlukan. Beberapa orang meyakini, air sumur ini membawa berkah dan bisa jadi lantaran atau sarana pengobatan. ”Banyak yang minta memang kadang-kadang orang yang sakit itu. Saya sendiri pernah melayani itu sampai dua kali,” pungkasnya. (riz/naz/riz) Editor : Achmad RW
#perak #gadingmangu #Jombang #musala tua #musala #Musala Sunan Giri #Gading #Rumah Ibadah #rubrik rumah ibadah