Tumpukan TV bekas tampak berjajar memenuhi halaman rumah sederhana siang itu. Di sampingnya, ada laki-laki paro baya terlihat sibuk menguliti tembaga maupun alumunium. Ya, itulah limbah elektronik yang menghiasi rumah Yani, 56, salah satu pengusaha rongsokan.
Baginya, limbah adalah harta karun yang setiap hari bisa menghasilkan cuan ratusan ribu rupiah. Meski baru 7 bulan memulai usaha rongsokan, namun ia tetap bertahan karena pendapatan yang dikumpulkan lebih menjanjikan daripada pekerjaan sebelumnya. ”Awalnya saya sopir selama kurang lebih 23 tahun. Profesi itu saya tekuni sejak lama,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Kemudian, sekitar 2022 lalu, ia tertarik menjadi pengusaha rongsokan. Meskipun awal-awal dirasakan cukup sulit, namun ia akhirnya mulai terbiasa. ”Yang sulit itu kalau cari barang. di Jombang sudah sulit, saya lebih sering ke luar kota seperti Lamongan dengan bawa pikap,’’ tambahnya.
Kala berburu limbah bekas, Yani juga sering mencari sumber-sumber di internet. Ia terkadang menghubungi lewat ponsel sebelum mendatangi orang yang ingin menjual barang bekas. ”Minimal ada 10 TV bekas baru saya ambil,’’ terang bapak tiga anak ini.
Dari limbah elektronik itulah kemudian dibongkarnya sendiri di rumah. Ia menyisihkan lilitan tembaga dan alumunium menjadi kemasan kiloan. Sedangkan, limbah plastik dikumpulkan sendiri. ”Yang prioritas adalah alumunium dan tembaga. Karena itu yang saya jual ke pengepul,’’ tandasnya.
Satu kilogram alumunium dibeli dengan harga Rp 21 ribu. Sedangkan tembaga Rp 101 ribu. ”Kalau sehari dapat berapa ya tidak menentu. Tapi kisaran empat hari dapat sekitar 10 kilogram,’’ jelas dia.
Nilai jual yang tinggi itu berbeda dengan limbah plastik. Untuk barang elektronik berbagan plastik yang dikumpulkan, hanya terjual Rp 2.000 per kilogram. ”Ya kalau plastik memang lebih murah, apalagi bekas,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW