Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dampak Banjir di Kedungmlati: Padi Mati, Saluran Mampet

Achmad RW • Minggu, 12 Februari 2023 | 12:44 WIB
Kondisi tanaman padi milik warga Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben setelah terendam air
Kondisi tanaman padi milik warga Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben setelah terendam air
JOMBANG – Sejumlah petani di Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben kini hanya bisa mengelus dada. Sawahnya terendam banjir, tanaman padinya mati. Saluran sekunder pun tak berfungsi.

’’Setelah hujan pasti banjir, ini sudah kedua kalinya kebanjiran,’’ kata Parman, petani asal Dusun Karandegan.

Tanaman padi saat ini sudah berumur 40 hari. Namun, tak semua tumbuh normal. Sebagian mati usai terdampak banjir meluapnya Afvour Watudakon beberapa waktu lalu. Air meluap juga dipicu saluran pembuangan yang tak berfungsi normal. Sehingga air terlalu lama nandon di pematang sawah.

Parman akhirnya berinisiatif untuk membersihkan saluran buang itu. Ditemani salah satu anggota keluarganya, saluran yang berada persis di samping sawah miliknya. Semak belukar yang tumbuh dibabat habis. Meski menggunakan cangkul, upaya mengangkat sedimentasi saluran dilakukan. Dengan harapan air tak terlalu lama menggenangi sawahnya. ’’Kalau tidak begini, nanti hujan lagi bisa mati semua,’’ ujar Parman.

Lahan miliknya seluas 2.800 meter persegi tak semuanya tanaman mati. Hanya yang berada di dekat saluran. ’’Sudah dua kali tanam ulang, ambil bibit di sawah sebelah. Soalnya sudah nggak bisa disulami lagi,’’ tuturnya.

Menurutnya, upaya menyampaikan persoalan itu ke pemdes sudah sering dilakukan. ”Nggak tahu kenapa di sini pasti banjir. Dulu sudah ada rapat, nggak ada tindaklanjut,’’ kata Parman.

Sementara itu Kades Kedungmlati, Mariyati, mengakui, ada dua dusun yang selama ini jadi langganan banjir lahan pertanian. Dusun Karandegan dan Dusun Ingaskerep. ”Yang paling parah selama ini di sebelah afvour (Afvour Watudakon),’’ kata Mariyati.

Penyebab banjir, diantaranya, saluran pembuang ke Afvour Watudakon tak berfungsi. ’’Sawahnya lebih rendah, kedua ada gorong-gorong di bawah afvour itu. Sudah waktunya diperbaiki, karena rusak. Sehingga ketika ada air tidak bisa maksimal,’’ imbuhnya.

Pihaknya sudah menyampaikan ke pemkab. ’’Sudah kami sampaikan ke BBWS Brantas juga di Desa Blimbing awal 2020. Ternyata bukan ikut sana, melainkan ikut kabupaten,” urai Mariyati.

Meski demikian, sampai saat ini belum ada penanganan dilakukan. ’’Kalau tidak salah saluran sekunder, nanti kita sampaikan lagi ke kabupaten supaya nggak terus-terusan banjir di situ,’’ tekadnya. (fid/jif/riz)

  Editor : Achmad RW
#Kesamben #banjir #sawah #Jombang #persawahan #Kedungmlati #Dampak Banjir #Pertanian