Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Banjir Kedungbetik, Buah Penampang Saluran yang Tak Memadai

Achmad RW • Senin, 23 Januari 2023 | 13:00 WIB
Sawah milik petani di Dusun Guyangan, Desa Kedungbetik yang berubah bak tambak karena terendam air.
Sawah milik petani di Dusun Guyangan, Desa Kedungbetik yang berubah bak tambak karena terendam air.
JOMBANG – Banjir yang melanda kawasan permukiman dan areal pertanian di Desa Kedungbetik, Kecamatan Kesamben jadi masalah tahunan. Selain dangkalnya Afvour Dero juga tak berfungsinya saluran pembuang di kawasan setempat.

Kasun Kedungmacan Rokhim mengatakan,  penyebab utama banjir di kawasan setempat lantaran kondisi saluran dangkal juga saluran pembuang tidak mamadai. ”Makanya ketika air sungai naik lalu meluber ke sawah, sedangkan pembuang dari sawah itu sudah tidak fungsi,” kata Rokhim kepada Jawa Pos Radar Jombang, Minggu (22/1) kemarin.

Menurutnya, sejak dulu warga juga mengeluhkan kondisi saluran pembuang. ”Jadi hanya satu pembuangan, itu ngayahi 100 hektare lebih. Karena patusan hanya itu saja mau nggak mau waktu banjir di sawah air masuk ke kampung,” imbuh dia.

Dikatakan, saluran itu melintang di tengah dusun. Hilirnya berada di Afvour Dero. ”Harusnya ketika pembuangan lancar, air dari sawah bisa langsung mengalir ke sugai (Avfoer Ndero). Berhubung sudah nggak fungsi, larinya ke kampung,” ujar Rokhim.

Menurut dia, saluran pembuang itu dulunya dibikin warga bersama petani setempat. Tepatnya, ketika banjir setiap tahunnya terjadi di lahan pertanian. ”Pembuangan itu sebenarnya dari warga atau petani sendiri yang buat, semacam bantuan. Sebagian sawahnya itu dipakai untuk pembuangan,” tutur dia.

Karena kini sudah tak lagi berfungsi, mau tak mau areal perkampungan juga ikut terdampak. ”Susahnya kita di sini, sungai yang besar belum dinormalisasi, sementara pembuang dari sawah juga sudah tidak ngatasi. Sampai sekarang belum ada solusi,” lanjut Rokhim.

Diharapkan, selain nantinya penanganan dilakukan pada Afvour Dero juga pembuang dari sawah. ”Dulu inisiatif petani sendiri, nggak ada dari desa ataupun kabupaten. Ya dulu sawah milik petani itu dibuat patusan buat buangan,” tutur dia.

Dikatakan, sebelumnya pemdes sudah mengajukan penanganan pada Afvour Dero. Ini dilakukan agar ketika masuk musim hujan wilayah setempat tak kembali banjir. ”Desa juga sudah pernah nyampaikan ke kabupaten supaya sungainya terkait saluran pembuang dan minta normalisasi, cuma sampai sekarang belum ada realisasi,” kata Rokhim.’

Seperti diberitakan sebelumnya, petani di Desa Kedungbetik, Kecamatan Kesamben dipusingkan dengan banjir yang merendam sawah. Tanaman padi yang baru berusia kurang dari setengah bulan itu terancam mati dan hanyut akibat terbawa air. Luasnya ditaksir mencapai 36 hektare.

Begitu juga, petani di Desa Sumbersari, Balonggemek, Desa/Kecamatan Megaluh. Sekitar 150 hektare lahan pertanian yang tergenang banjir. Sebagian besar sudah surut.

Seperti terlihat Kamis (19/1) pagi, puluhan hektare sawah di Dusun Guyangan, Desa Kedungbetik, terlihat seperti danau. Tanaman padi milik petani tak terlihat sama sekali karena tertutup air. ”Ini sudah hari ketiga seperti ini. Air dari patusan (afvour) yang penuh terus meluber ke sawah,” terang Ponisan, 65, salah seorang petani. Ia mencontohkan tanaman padi di sawahnya seluas 1 hektare kini terancam rusak karena banjir. Terlebih, usia padi masih sangat muda. ”Baru 10 hari tanam, kok sudah seperti ini. Kalau lihat benih di pinggir kayaknya nggak selamat,” lanjutnya. (fid/naz/riz) Editor : Achmad RW
#Kesamben #kedungbetik #saluran #Jombang #persawahan #Banjir Sawah #Penampang saluran