Suara nyaring perkutut begitu terdengar di setiap sudut rumah milik Edi warga Dusun/Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito. Ada puluhan ekor burung perkutut peliharaannya. Sebagian ditaruh di sangkar dan digantungkan di sejumlah sudut rumah. Sebagian lainnya ditaruh di dalam sangkar besar untuk tujuan dikembangbiakan.
Tampak sabar Edi membersihkan kotoran burung. Ia juga mengganti rutin memberikan pakan dan minum untuk burung-burung kesayangannya itu. Dia juga memandikan burung-burung peliharaannya secara berkala. Dengan begitu, pertumbuhan bulu-bulu burung terjaga dengan baik dan bersih.
Bapak empat anak ini mengaku menggeluti burung perkutut sejak kecil. Dirinya mengaku sejak kecil memeng penghobi burung perkutut. ”Awal pandemi itu mulai memberanikan diri untuk beternak perkutut," katanya.
Selain untuk hiburan di rumah selama diberlakukan PPKM, seiring jumlah burung perkututnya terus berkembang, dia pun banyak meraup uang dari penjualan burung. ”Saya ingat itu awal pertama kali berternak hanya memiliki empat pasang saja,” katanya.
Berawal dari situ, Edi ketagihan membudidayakan burung perkutut. Terlebih lagi, dirinya juga berhasil mengembangbiakkan perkututnya. ”Dari empat pasang itu terus berkembang dan semakin menjadi banyak,” bebernya.
Karena burung perkutut satu kali bertelur dua butir, sehingga anakan burung perkutut selalu satu jodoh. ”Setiap dua minggu setelah menetas perkutut bisa bertelur lagi,” kataya.
Terlebih lagi, budi daya burung perkutut ini sangat mudah sekali. Karena burung satu ini sangat tahan dengan penyakit dan berbagai cuaca. ”Hanya rajin membersihkan kandang dan memberi makan minum, burung bisa hidup,” bebernya.
Burung perkutut yang dikembangkan Edi ini memiliki ciri khas bisa mengeluarkan suara yang nyaring. Tak heran banyak pencinta burung perkutut membeli padanya. Pasalnya burung hasil ternaknya kebanyakan sudah siap untuk dilombakan. ”Burung umur tiga bulan itu sudah laku. Harganya mulai Rp 1 juta per ekor,” katanya.
Makin panjang dan nyaring suaranya, harga jualnya juga akan semakin mahal. ”Kalau suaranya semakin panjang dan ada nadanya, harganya tidak boleh Rp 1 juta. Mesti di atasnya,” pungkas Edi.(yan/naz/riz) Editor : Achmad RW