Kepala Dinas Kesehatan drg Budi Nugroho mengatakan, ada lonjakan kasus DBD tahun ini. "Memang ada kenaikan kisaran 30 sampai 35 persen, karena sebelumnya hanya 93 kasus selama 2021 dan kini menjadi 134 kasus DBD di Kabupaten Jombang," ujar dia melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Haryo Purwono kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (31/12).
Pada Januari ada 22 kasus, Februari 9 kasus, Maret 20 kasus, April 12 kasus, Mei 14 kasus, Juni 13 kasus, Juli 4 kasus, Agustus 3 kasus, September 4 kasus dan Oktober 6 kasus dan dua bulan terakhir ada tambahan 36 kasus. ”Akhir-akhir ini memang ada penambahan kasus DBD cukup banyak, karena memasuki musim hujan,’’ tambahnya.
Dijelaskan, sebaran kasus DBD tersebut hampir merata di 21 kecamatan. Namun ada beberapa kecamatan yang sebarannya paling mendominasi. Beberapa kecamatan tersebut, merupakan daerah padat penduduk. ”Sebaran paling luas di Kecamatan Jombang, Mojoagung, Peterongan. Faktornya adalah lingkungan yang di sekitar kita, termasuk tempat tinggal yang kurang bersih,’’ papar dia.
Dijelaskan, dari total 134 kasus paling banyak menjangkiti anak-anak dengan rentang 5-19 tahun. Sedangkan, untuk dewasa jumlahnya cenderung sedikit. ”Memang untuk paling banyak adalah anak-anak, rata-rata usia 5-19 tahun baik mulai SD hingga SMP,’’ tandasnya. Beruntung dari keseluruhan kasus bisa tertangani dengan baik. Sehingga tidak sampai fatal. ”Selama setahun kasus meninggal karena DBD nol,” imbuh Haryo.
Haryo mengimbau, warga lebih waspada dengan memperhatikan kebersihan lingkungan mereka. Misalnya, menguras bak mandi secara rutin, mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk serta membiasakan pola hidup bersih dan sehat. "Meski ada lonjakan kasus DBD, jangan terlalu bertindak cepat untuk melakukan fooging. Dan, himbauan kepada masyarakat, yakni sering bersihkan lingkungan sekitar, karena fooging termasuk alternatif lain yang hanya bisa dilakukan jika sudah ada kasus DBD jelas di tempat tersebut," pungkasnya. (ang/naz/riz) Editor : Achmad RW