’’Tersebar di seluruh kecamatan. Yang paling banyak di Kecamatan Jombang, Diwek, Kabuh dan Mojoagung,’’ kata drg Budi Nugroho, kepala Dinas Kesehatan Jombang, kemarin.
Budi tak bisa memastikan, apakah 196 tersebut seluruhnya merupakan warga Kabupaten Jombang. Karena data itu didapat dari temuan pelayanan. ’’Temuan di layanan, bisa tidak asli penduduk kecamatan tersebut,’’ ungkapnya. Jika dibandingkan dengan 2021, tahun ini ada peningkatan cukup banyak. Tahun 2021 ada 152 kasus.
Setelah terdeteksi terpapar virus HIV, pasien harus melakukan pengobatan seumur hidup. Serta berperikaku seks aman. Budi menegaskan, pengobatan HIV AIDS gratis. Itu bagian dari pencegahan pengendalian penyakit HIV AIDS. ’’Yang paling penting, kita yang tidak terkena HIV, tidak boleh menstigma mereka,’’ pesannya.
Berbagai upaya penekanan dilakukan dengan sosialisasi pencegahan HIV. Termasuk kepada anak-anak sekolah, program deteksi dini, deteksi sifilis, dan deteksi HIV. Serta perluasan akses tes dan pengobatan HIV.
Sementara upaya yang dilakukan untuk menekan stigma negatif dari masyarakat, melalui sosialisasi pencegahan penularan HIV. Serta memberikan informasi jika penularan HIV itu tidak mudah.
Sampai saat ini, kelompok dukungan sebaya (KDS) Jombang care center (JCC) Plus Jombang mendampingi ribuan penderita HIV AIDS. ’’Secara komulatif, Jombang memiliki 2.177 kasus HIV hingga 1 Desember 2022,’’ kata Muhammad Fuad, koordinator KDS JCC.
Yang menjadi fokus penanganan KDS JCC Plus ada 1.027 kasus. ’’Sisanya mungkin ada yang sudah meninggal, mungkin ada yang berobat di luar jangkauan pendampingan kami yaitu di luar 24 fasilitas kesehatan,’’ jelasnya. Pendampingan dilaksanakan di 24 layanan kesehatan. Rinciannya, satu RSUD Jombang dan 23 puskesmas.
Ada lima indikator pendampingan. Pertama, dukungan psikososial, atau penerimaan kasus dan berdaya dengan diri sendiri. Kedua, inisiasi antiretroviral (ARV) yaitu menekan pertumbuhan virus agar tidak semakin menyebar. Ketiga, melakukan tracing jika orang dengan HIV AIDS (ODHA) mangkir selama lebih dari tiga bulan. ’’Meski belum tiga bulan mangkir, kita yang harus kunjungan,’’ jelasnya.
Keempat, notifikasi pasangan. Mencari tahu siapa saja yang berhubungan seks dengan ODHA. Kelima, mendampingi pengobatan. ’’Pengobatan ODHA harus dilakukan seumur hidup,’’ kata Fuad.
Penderita yang dia dampingi, 35 diantaranya anak-anak yang tertular dari orang tuanya sendiri. Anak termuda yang terpapar HIV AIDS adalah balita 14 bulan. Karena dinyatakan sebagai ODHA, ia harus menjalani pengobatan seumur hidup. ’’Obat itu hanya memperlambat pertumbuhan virus, tidak bisa menyembuhkan,’’ jelasnya.
Anak-anak ODHA biasanya tertular melalui proses kelahiran. Yang seharusnya dilakukan secara caesar, dipaksa dengan melakukan kelahiran normal. Akibatnya ada kontak darah yang menyebabkan tertularnya HIV.
HIV menular melalui cairan alat kelamin, penggunaan jarum suntik, persalinan, kehamilan, ASI, dan tranfusi darah. Anak-anak yang terpapar HIV membutuhkan asupan nutrisi ekstra seumur hidupnya. Seperti susu, telur, kacang hijau, dan obat-obatan. Obat setiap pasien berbeda, ada yang diberikan 12 jam sekali, ada yang diberikan 24 jam sekali.
Fuad menyayangkan terkait stigma negatif dari masyarakat sekitar terkait ODHA. Biasanya stigma itu muncul dari orang-orang terdekat. ’’Kita harus terus kampanyekan untuk pencegahan HIV,’’ tendasnya. (wen/jif/riz) Editor : Achmad RW