Seperti pantauan Jawa Pos Radar Jombang Minggu (20/11) kemarin, sedikitnya ada dua unit perahu masih beraktivitas menyeberangkan penumpang dari arah Nganjuk-Jombang maupun sebaliknya. Kondisi aliran air sungai Brantas terlihat masih tinggi, meski sudah lebih surut dibandikan Sabtu (20/11). Seluruh dermaga juga sudah tak lagi terendam air. ”Cuma dua memang yang beroperasi, itu saja baru mulai tadi pagi,” ungkap Tono, 45, sopir perahu Nogo Joyo.
Tono menyebut, kondisi air sungai memang masih deras, dengan debit yang masih tinggi. Hal itu juga yang membuat banyak perahu belum berani beroperasi. ”Termasuk yang kemarin hanyut juga masih libur, masih butuh perbaikan kayaknya. Karena baru kemarin sore bisa sandar lagi di dermaganya,” lontarnya.
Meski sudah beroperasi, Tono juga menyebut jumlah penumpang cenderung mengalami penurunan. Hal itu tak lepas dari kondisi sungai yang masih sangat tinggi debitnya. ”Kalau penumpang ya agak turun, karena biasanya memang kalau sedang air tinggi, banyak yang tidak berani menyeberang,” pungkasnya.
Sementara Yulianto, 35, salah satu penumpang menyebut tak terlalu takut dengan kondisi air yang deras. Menurutnya, meski debit air sedang tinggi, ia tetap memilih perahu tambang lantaran cukup menghemat perjalanan. ”Ini mau ke Jombang dari Nganjuk, walaupun debit tinggi, tapi daripada memutar jauh enak lewat sini,” pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, perahu New Joko Tingkir yang sedang membawa satu unit mobil dan satu sepeda motor mengalami kendala pada mesin hingga kehilangan kontrol terbawa arus Sungai Brantas Sabtu (19/11) pagi. Baling-baling kapal, rusak setelah menghantam sangkrah di sungai. Akibatnya perahu terseret hingga 700 meter dari lokasi awal. Beruntung, tak ada korban jiwa dalam kejadian itu, empat penumpang berhasil selamat setelah dievakuasi. (riz/naz/riz) Editor : Achmad RW