”Nggak bisa panen, banyak yang mati,” kata Heru Rudi salah seorang petani, Jumat kemarin (18/11). Tanaman jagung miliknya terpaksa dibabat habis dan dibuat pakan ternak. Jagung yang kering itu terendam air.
Jagung miliknya terendam banjir selama lima hari. Saat itu kondisi jagung sedang berbuah. ”Pokoknya setelah saya pupuk itu kena banjir, akhirnya tidak bisa mentek (baca; berisi) jagungnya,” imbuh dia.
Karena terlalu banyak air, membuat jagung jadi layu. Kondisi itu berpengaruh pada jagung yang baru tumbuh. ”Kebanjiran lima hari setelah itu nggak, lalu kena hujan lagi banjir dua hari,” beber Heru.
Akibatnya, hampir seluruh tanaman miliknya mati. Hanya ada beberapa hiji yang bisa dibawa pulang. Itupun harus memilah satu persatu. Padahal, tanaman jagungnya seluas 1.000 meter persegi.
Mau tak mau, semua jagung dibabat habis. Beberapa jagung yang dibuka bijinya masih bagus, dipetik lalu dibawa pulang. Meski begitu, kondisi jagung yang bisa diselamatkan tidak bagus. Sebagian bijinya busuk dan kerdil. Jagung yang dibawa pulang itu untuk pakan ternak. ”Lumayan buat pakan ayam sama burung dara,” tambahnya.
Senada, Farhan petani lainnya, menganggap sekarang sudah seharusnya memasuki akhir panen. Namun, justru banyak jagung yang layu dan mengering. ”Banyak yang dibiarkan di sawah, sudah nggak bisa dipanen. Hanya ditebang terus tanam padi lagi,” pungkasnya. (fid/bin/riz) Editor : Achmad RW