Ribuan ulat menggeliat di dalam kotak berukuran 2x1 meter di rumah sederhana. Tak berselang lama, pria paruh baya mengambil kandang ulat dan menyortir antara ulat dan indukan. Ya, itu adalah Mahfud, peternak ulat kandang yang telaten membudidayakan larva dari kumbang alphitobisu diaperinus tersebut.
Ia beternak ulat kandang sejak 12 tahun lalu. Awalnya, dari hobi memelihara burung, namun harga pakan dirasakan sangat mahal. Sehingga ia mencoba budidaya sendiri dengan membeli indukan. Secara perlahan, usahanya beternak ulat kandang terus berkembang. Hingga kini, ia sudah memiliki sekitar 1.000 kotak di rumahnya.
”Jadi saya beternak ulat kandang ini cukup lama, sekitar 12 tahun,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (28/10). Ulat kandang adalah ulat yang biasa berkembang dari kotoran hewan ternak seperti kotoran ayam boiler. Ulat ini makanan favorit burung kiacuan. ”Ya, memang dijual untuk pakan burung,’’ tambahnya.
Sejak awal beternak ulat kandang, Mahfud mendapat keuntungan cukup banyak. Sebab, harga pakan ulat berupa polar gandum seimbang dengan harga jual ulat. Namun, dalam dua tahun terakhir, sejak pandemi Covid-19 hingga dampak perang Rusia dan Ukraina, harga pakan ulat cukup berpengaruh. ”Sekarang kendalanya ada di harga pakan. Untuk satu sak (50 Kg, Red) polar naik dari Rp 180 ribu menjadi Rp 220 ribu," jelasnya.
Jika dibandingkan dengan harga bahan baku, ia mengaku tak banyak meraup untung. Namun ia mengaku tetap bertahan karena ternak ulat kandang sekarang menjadi satu-satunya pendapatan yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. ”Harapannya harga bahan pakan kembali stabil,’’ jelas dia lagi.
Dalam sehari, Mahfud bisa panen hingga 40 kilogram. Sementara harga jual ulat Rp 20 ribu per kilogram. Jika ditaksir dari total 1.000 kotak, ia mampu mendapat penghasilan sekitar Rp 800 ribu per hari. Namun, jumlah itu belum dikurangi biaya pakan dan perawatan. ” Panen tidak menentu, bisa sehari sekali, bisa dua hari sekali,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW