Di salah satu rumah di Desa Tapen, Kecamatan Kudu, terlihat beberapa orang sibuk membuat kerajinan. Mulai dari songkok, lampu hias, tas dan lain sebagainya. Kerajinan tangan yang mereka kerjakan semua dari daun pandan. Tangan terampil mereka cukup cekatan menganyam satu per satu daun pandan kering.
Ya, kerajinan daun pandan itu milik Suryanto. Hingga sekarang, produksinya masih bertahan. Dengan dibantu istri dan dua karyawan, ia membuat beberapa kerajian tangan yang bernilai jual tinggi. ”Saya membuat ini cukup lama sekitar enam sampai tujuh tahun,” ujarnya sembari sibuk menganyam daun pandan.
Kerajinan daun pandan ini bermula dari banyak tanaman daun pandan yang ada di sekitar rumahnya. Melihat banyak daun pandan itulah tiba-tiba muncul ide untuk membuat kerajinan daun pandan. Terlebih di wilayah utara Brantas, sudah banyak warga yang membuat anyaman serupa. ”Untuk membuatnya ternyata tidak sulit,” kata dia.
Pertama, daun pandan siap panen dibersihkan terlebih dahulu, terutama menghilangkan duri-duri di bagian pinggir daun. Setelah itu daun dipanaskan di bawah terik matahari sampai kering. ”Setelah daun benar-benar kering, baru bisa digunakan untuk kerajian,” ungkapnya.
Ia mengaku, cuaca tidak menentu seperti sekarang ini sangat berpengaruh terhadap usahanya. Karena dirinya sangat mengandalkan terik matahari. ”Ya, susahnya sekarang cuaca tidak menentu, penjemuran daun pandan tidak bisa maksimal,” beber dia.
Apabila cuaca sedang terik, waktu penjemuran daun pandan biasanya membutuhkan waktu antara 2-3 hari. Berbeda dengan musim tidak menentu seperti sekarang, maka penjemuran daun pandan berhari-hari. ”Kalau seperti sekarang baru bisa kering antara 5-7 hari. Karena baru dijemur beberapa jam turun hujan,” tuturnya.
Dalam situasi cuaca tidak menentu, sebenarnya dirinya pernah menggunakan mesin pemanas untuk mengeringkan daun pandan. Namun, setelah dilakukan beberapa kali, ternyata hasilnya tidak maksimal. Daun pandan justru menjadi rusak. ”Kalau menggunakan mesin anyaman daun tidak enak, juga mudah rusak,” kata dia.
Karena itulah jalan keluar satu-satunya adalah mengurangi jumlah produksi. Bila dalam kondisi normal, ia bisa memproduksi 10 kerajinan tangan dengan bentuk berbeda-beda. Saat ini, dirinya hanya produksi 4-5 buah. ”Ya karena bahannya kurang, jadi mengurangi jumlah produksi,” ungkapnya.
Kendati demikian, dirinya tetap bersyukur dalam satu bulan masih mendapat penghasilan sekitar Rp 6 juta. ”Untuk harga yang paling murah Rp 5 ribu seperti tempat korek api. Dan yang paling mahal ratusan ribu rupiah seperti lampion,” pungkas Suryanto. (yan/bin/riz) Editor : Achmad RW