Ainur Rofiq, 45, salah satu sopir bus AKDP mengaku, tarif bus jurusan Jombang – Malang hingga kemarin masih tetap. Ongkosnya Rp 35 ribu per penumpang. ”Untuk tarif kita tetap. Belum ada perubahan sejak lebaran lalu,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Meski harga BBM naik, ia mengaku belum ada perintah terkait kenaikan harga dari perusahaan otobus (PO) yang diikutinya. Hanya saja, ia mengakui biaya pengisian BBM membengkak menjadi Rp 600 ribu, dari yang sebelumnya Rp 400 ribu. “Ya naik Rp 200 ribu per hari sejak BBM naik, tapi ya mau bagaimana lagi,’’ papar dia.
Pantauan di Terminal Kepuhsari menyebut, tampak sejumlah penumpang hilir mudik naik dari satu angkutan ke angkutan lain. Beberapa bus AKDP terlihat diserbu penumpang yang akan bepergian ke luar kota. Namun, untuk angkot jumlah penumpang justru terlihat sepi. Hingga satu jam menunggu tak ada satupun penumpang yang naik.
Khoirul Anam, 49, salah satu sopir angkot asal Diwek mengaku, tarif angkot jurusan Jombang – Bareng tetap Rp 15 ribu. “Masih tetap, tidak ada kenaikan,’’ ujar dia kepada wartawan koran ini kemarin.
Ia menyebut, belum ada kesepakatan antar pemilik jasa angkot dengan Pemkab Jombang terkait penyesuaian tarif sejak harga BBM naik. ”Kalau kita mengikuti saja, namun sampai sekarang tetap,’’ tambahnya. Meski demikian, sejak pemberlakuan BBM naik, pendapatan yang dihasilkan menurun. Apalagi kondisi sepi penumpang beberapa bulan ini membuat pendapatannya makin tak menentu. ”Belum lagi setor ke juragan Rp 60 ribu per hari. Sedangkan penumpang saja, paling banyak enam orang sehari,’’ pungkas Khoirul. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW