Sekretaris Dinas PUPR Jombang Imam Bustomi mengatakan, usai menerima laporan adanya keluhan warga terkait dampak pengerjaan proyek tanggul di Desa Jatiduwur, pihaknya menerjunkan tim mengecek lapangan. ”Jadi kita sudah ngecek melalui UPT Kesamben terkait keretakan dan sebagainya,” kata Bustomi dikonfirmasi, Minggu (11/9) kemarin.
Diakui, selain keluhan debu, beberapa dinding rumah warga muncul retakan diduga akibat aktivitas pemancangan. ”Sebelum ada kegiatan (proyek rehabilitasi tanggul Brantas, Red) sudah ada keretakan, cuma ketika ada kegiatan semakin terdampak,” imbuh dia.
Karena itu, lanjut dia, adanya keluhan itu pihaknya meneruskan ke pihak kewenangan sungai. ”Tetap kita komunikasikan ke sana (BBWS Brantas, Red). Karena biarpun warga tidak keberatan adanya proyek, ketika terjadi hal yang sifatnya sangat substansi, mereka juga harus ikut bertanggung jawab,” ujar Bustomi.
Sehingga untuk sementara tinggal menunggu action dari pihak balai. ”Kalau dari balai sendiri kami kurang tahu apakah sudah turun ke sana,” lanjut dia.
Disinggung terkait pengerjaan proyek yang ditengara asal-asalan, Bustomi tak sampai melakukan pengecekan pekerjaan. Alasannya, karena proyek itu bukan kewenangan pemkab.
”Sementara belum sampai sejauh itu. Kemarin hanya dampaknya saja, karena di sana sendiri sudah ada konsultan (pengawas, Red),” kata Bustomi.
Kendati begitu diakui, pemancangan menggunakan material beton ada teknis tersendiri. ”Secara teknis ada grade kalau sampai kedalaman berapa bagian atas mengalami kerusakan, tapi selama kedalamannya terpenuhi Insya Allah nggak masalah, kami sendiri tidak pegang spesifikasi pekerjaan,” kata Bustomi.
Seperti diberitakan sebelumnya, selain berdampak pada kerusakan rumah-rumah warga, kualitas proyek rehabilitasi tanggul Brantas di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben juga disinyalir dikerjakan asal-asalan. Setidaknya terlihat dari kegiatan pemancangan.
Salah satu warga mengatakan, proyek rehabilitasi tanggul banyak ke berdampak ke lingkungan sekitar. ”Mulai debu, bising dan banyak tembok-tembok rumah-rumah warga retak, kemungkinan disebabkan getaran saat mancang, warga juga mulai umek,” terang B, salah satu warga sekitar yang meminta namanya dirahasiakan.
Tak hanya itu, warga juga mempertanyakan spesikasikasi material tanggul. Pasalnya, sering kali ditemukan material CCSP (Corrugated Concrete Sheet Pile) rusak. ”Pekerjaannya sepertinya juga asal-asalan, CCSP kelihatannya belum cukup umur sudah dipancang, akhirnya banyak retakan di bagian tengah dan kepala (atas, Red),” imbuh sumber kepada Jawa Pos Radar Jombang. (fid/naz/riz) Editor : Achmad RW