Jadi Purwanto, 45, salah satu penjual beras mengaku, harga beras mulai merangkak naik sejak beberapa hari lalu ketika wacana kenaikan BBM mencuat. ”Rata-rata kenaikannya antara Rp 200 sampai Rp 500 per kilogram,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.
Untuk jenis beras serang super misalnya, harga per kilogram sekarang Rp 9.800 dari sebelumnya Rp 9.200. Jenis serang biasa menjadi Rp 9.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 8.800. Begitu juga beras bramo yang paling banyak dibeli masyarakat, juga naik dari harga sebelumnya Rp 11.200, kini menjadi Rp 11.600 per kilogram. Termasuk bramo dengan kualitas di bawahnya, dari harga Rp 10.700 menjadi Rp 11.500 per kilogram. ”Memang semua jenis naik, rata-rata Rp 500 an,’’ tambahnya.
Tak hanya itu, beras dengan kualitas rendah dengan tingkat kepecahan 15 persen juga mengalami kenaikan. Ia menyebut, beras itu adalah jenis beras impor Vietnam yang biasa disebut warga beras hajatan. ”Ya kalau beras Vietnam naik Rp 500. Dari sebelumnya Rp 8.000, menjadi Rp 8.500 per kilogram,’’ papar dia merinci.
Dari semua kenaikan komoditi itu ia menyebut dipengaruhi beberapa faktor sehingga harga jual terus terdongkrak. Selain hasil panen menurun, biaya transportasi dan biaya giling juga naik seiring kenaikan harga BBM. ”Biaya giling kan pakai BBM. Belum lagi biaya kirim,’’ bebernya.
Dengan kenaikan harga itu, dalam analisanya memang ada penurunan daya beli masyarakat. Sejak ada kenaikan beberapa waktu lalu, jumlah pembeli yang datang terus berkurang. ”Pembeli sangat sepi, namun karena beras kebutuhan pokok jadi kini sudah kembali normal,’’ pungkas dia.
Sementara itu, Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Jombang Agus Purnomo, menyebut kenaikan harga beras masih dianggap wajar. ”Pagi tadi usai kita melakukan pemantauan harga di Pasar Peterongan, Mojoagung dan Ploso untuk harga beras masih stabil,’’ ujarnya.
Meski begitu, pihaknya mengaku akan terus melakukan pemantauan secara berkala selama dua minggu ke depan. Jika ada pergerakan kenaikan harga yang cukup signifikan, maka akan dilakukan beberapa skema. Termasuk menyiapkan operasi pasar (OP) di sejumlah pasar tradisional. Operasi pasar ini untuk mengendalikan stabilitas harga. ”Kalau dalam dua minggu ada kenaikan harga, baru kita lakukan langkah,’’ pungkas Agus. (ang/bin) Editor : Achmad RW