Ya, keripik ini merupakan jajanan khas di Desa Pagerwojo. Teksturnya yang garing, renyah dan memiliki rasa yang gurih menjadikan keripik ini banyak diminati. Salah satu warga yang memproduksi keripik Malaysia Roudotul Jannah. Ibu dua anak ini sudah memproduksi keripik tersebut sejak 2014. ”Ya banyak warga di sini yang bikin. Karena hampir rata-rata semua orang bisa membuat,” ujarnya.
Nama keripik Malaysia sendiri lahir dari kebiasaan penyebutan warga setempat. Diceritkaannya, awal mula keripik ini dinamakan keripik Malaysia. Dahulu ada warga pendatang. Kebetulan orang tersebut pernah bekerja di Malaysia.
Saat pulang ke Pagerwojo, mantan TKI ini membuat kue dan dibagikan ke tetangga. Karena rasanya enak, warga sekitar tertarik meminta resep dan cara membuatnya. ”Jadi hampir seluruh warga bisa membuatnya," tuturnya.
Untuk membuat kue ini tidaklah susah. Hanya membutuhkan bahan yang mudah dijumpai di pasar. Seperti tepung terigu, telur dan mentega, daun bawang, seledri, penyedap. Adonannya, juga dibuatnya sendiri. Keripik ini berbentuk laiknya pangsit yang dibuat bertumpuk. Teksturnya saat dimakan pun serupa.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan, yakni menggulung adonan. Padatkan adonan agar gulungan adonan tidak mudah lepas saat digoreng. Setelah adonan selesai, adonan keripik dimasukkan ke dalam mesin untuk dipipihkan. Kemudian dibentuk seperti bunga-bunga. ”Ini uniknya meski rasanya sama tapi warga berkreasi. Bentuknya dibuat berbeda-beda agar lebih menarik,” ungkapnya.
Jika di awal hanya berniat coba-coba untuk cemil sendiri, sekarang Roudotul Jannah berhasil merintis usaha pembuatan keripik Malaysia. Dalam sehari ia bisa memproduksi hingga 5 kilogram adonan. ”Yang paling susah itu mengaduk adonan,” katanya.
Dikatakannya, untuk pemasaraan saat ini melalui online dan ada yang mengambil sendiri. ”Kalau permintaan banyak itu saat Lebaran. Pesanan menjadi meningkat,” pungkasnya. (yan/naz/riz) Editor : Achmad RW