Kasun Jatipandak Syafiul mengaku sudah mendapat instruksi dari kades untuk melakukan pendataan. Terutama rumah warga yang berada di dekat lokasi proyek. ”Jadi kemarin sudah saya survei enam rumah yang dindingnya retak-retak,” katanya.
Ke enam rumah itu tingkat kerusakannya serupa, yakni retakan di dinding. Rata-rata, ada dua retakan di setiap rumah. ”Rumah M Yanto, Jasmani, Mahfud, Mugianto, Syakur dan Ikhwan. Itu kondisinya retak sama dengan yang lain,” imbuh dia.
Untuk sementara, keluhan itu sudah disampaikan ke pihak pelaksana proyek. Namun data tersebut tak langsung diserahkan. Pertimbangannya, warga minta agar ada penggantian alat berat pemasangan pancang.
”Kemarin sudah kami sampaikan ke proyek, supaya alat itu diganti. Karena alatnya kemarin besar, getarannya juga besar. Sehingga, warga minta diganti yang lebih kecil,” bebernya. Untuk itu semua data rumah retak sudah dibawa, sambil menunggu realisasi penggantian alat berat.
Dia menambahkan, aktivitas pemancangan memang sangat dirasakan warga sekitar proyek. Paling terasa, adalah getaran saat pemancangan dilakukan. ”Rumah dekat proyek atau di pinggir tanggul. Jaraknya antara 30-50 meter dari titik pancang,” tambah Syaiful.
Sementara itu, Bayu Pancoroadi Kepala Dinas PUPR Jombang mengaku belum mendapat laporan keluhan proyek BBWS Brantas di Kesamben. Khusus proyek BBWS ini pihaknya memang tidak mempunyai kewenangan. ”Jadi kalau turun langsung kami tidak ada kewenangan,” katanya.
Meski begitu, pihaknya siap memfasilitasi bila ada laporan dari pemerintah desa setempat. Terutama terkait keluhan warga yang rumahnya rusak terdampak proyek. Minimal berkomunikasi untuk menanggapi permasalahan yang dirasakan warga saat ini. ”Yang jelas kami akan melakukan koordinasi apabila pemdes memerlukan,” pungkas Bayu. (fid/yan/bin/riz) Editor : Achmad RW