Salah satunya rumah milik Ninik Handayani warga Dusun Jatipandak. Dia mengeluhkan munculnya sejumlah retakan pada dinding rumahnya diduga dampak pengerjaan proyek. ”Yang retak di kamar itu ada dua, lalu dapur dan bagian belakang,” kata Ninik kepada Jawa Pos Radar Jombang, Jumat (26/8) lalu.
Ninik menambahkan, sebelum ada proyek perbaikan tanggul, bangunan rumahnya baik-baik saja. Hingga dirinya mengetahui beberapa titik bagian dinding rumahnya retak bersamaan kegiatan pemancangan di lokasi proyek. ”Ada retakan ini waktu mancang itu seperti ada gempa, terasa horek. Saya sampai takut rumahnya ambruk,” imbuh dia.
Di salah satu dinding kamarnya, terlihat muncul retakan parah, memanjang hingga sekitar 1 meter. Saking parahnya, rumahnya bisa diintip melalui lubang retakan. ”Sebelum ada proyek nggak ada yang retak, ya baru satu bulan ini. Dinding yang belakang itu malah baru selesai dilepo, sekarang ada yang retak juga,” ujar Ninik.
Diakui, saat pekerjaan pemancangan area sekitar proyek terasa bergetar. Ninik menyebut seperti terjadi gempa. ”Pas di atas pintu kemarin malah ada yang sampai gempal, jatuh. Untung nggak kena orang rumah,” tutur dia.
Tak hanya rumahnya saja, beberapa tetangganya mengeluhkan dampak kegiatan proyek. ”Karena depan rumah sudah lokasi proyek, bagaimana tidak terasa sampai sini,” lanjut Ninik.
Warga juga sudah menyampaikan keluhan ke pelaksana proyek melalui pemerintah desa, namun sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari pelaksana proyek. Padahal, sebelum proyek dimulai pihak proyek sudah mengumpulkan warga. ”Pokoknya kalau ada apa-apa dulu diminta bilang ke proyeknya. Akan diganti sampai proyek mau selesai,” kata Ninik.
Hal serupa juga diungkapkan Jasmani warga lainnya. Di rumahnya retakan muncul di dua titik. Masing-masing dinding rumah bagian belakang dan ruang tamu. ”Di ruang tamu ini dekat pintu, sela-sela antara pintu dengan dinding. Retaknya lumayan panjang,” kata Jasmani.
Menurutnya, retakan itu muncul bersamaan kegiatan pemancangan tanggul. ”Sebelumnya nggak ada retakan, ya baru sekarang muncul,” imbuh dia. Menurutnya, retakan itu muncul disinyalir saat pemasangan tiang pancang.
Sebab getaran dari aktivitas itu hingga terasa. ”Pas ada masang pancang terasa horeg, genting itu sampai terdengar kalau gerak,” tutur dia.
Diharapkan, adanya dampak yang dirasakan bisa segera ditindaklanjuti. Sebab selama ini dia sudah diwanti-wanti ketika terdampak agar menyampaikan ke pelaksana sebelum pekerjaan tuntas. ”Dulu sudah dirapatkan, kalau ada masalah tidak boleh nggeruduk proyek. Pokoknya diminta bilang saja,” kata Jasmani.
Kondisi serupa juga dikeluhkan Sawaroh, yang rumahnya juga berada di dekat lokasi proyek. Retakan berada di bagian dinding. ”Ya baru saja pokoknya proyek mulai ada masang pancang,” kata Sawaroh.
Menurutnya, munculnya retakan lantaran adanya aktivitas pemancangan. ”Pas masang tiang yang panjang itu rumah ini terasa bergetar. Sampai botol kecap ada itu ada yang jatuh pecah,” tutur dia.
Warga lanjut dia, sempat umek adanya dampak itu. Bahkan akan menggeruduk lokasi proyek. ”Sampai sekarang belum ada pertemuan, kemarin warga ada yang ngajak demo. Tapi, ditunggu sampai mau selesai, kalau dibiarkan ya tetap minta ganti rugi,” kata Sawaroh.
Saat dikonfirmasi, Kades Jatiduwur Subardi membenarkan terkait keluhan sejumlah warga terkait bangunan rumahnya retak diduga dampak kegiatan pemancangan proyek tanggul. Sebagai langkah, pihaknya kini sudah melakukan pendataan. ”Iya, memang sebelum pekerjaan proyek sudah ada yang retak dan yang baru muncul ketika ada pekerjaan ini,” kata Subardi dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jombang.
Diakui, penyebab munculnya retakan rumah warga diperkirakan lantaran adanya aktivitas pemancangan. Rumah miliknya salah satunya, yang jaraknya sekira 50 meter dari lokasi pekerjaan, getaran begitu terasa. ”Jadi sampai rumah saya yang langsung menghadap tanggul kalau siang terasa getarannya,” imbuh dia.
Adanya keluhan itu sudah diketahui sejak beberapa waktu lalu. Pihaknya langsung menindaklanjuti melakukan survey. ”Jumat itu rumah-rumah di sekitar proyek sudah kita survey. Saya pasrahkan ke pak RT untuk mendata ada berapa dan dicek semua. Masih belum ada kabar lagi, pokoknya kita survey dan cek dulu,” ujar Subardi.
Dikatakan, setelah melakukan survey pihaknya akan menindaklanjuti ke pelaksana proyek. Harapannya, dari pelaksana juga akan menindaklanjuti keluhan warga. Sehingga problem di lapangan bisa teratasi. ”Supaya pekerjaan lancar dan bermanfaat bagi masyarakat semoga ditindaklanjuti orang-orang proyek. Sehingga warga yang merasakan efeknya ini juga bisa tenang,” tutur dia.
Diakui, adanya proyek itu disambut baik. Lantaran sebagai upaya penanganan tanggul kritis. ”Masyarakat juga sebenarnya menyadari pekerjaan ini, untuk penanganan keresahan warga. Cuma, di lapangan ketika ada keluhan ya tolong diselesaikan,” kata Subardi. (fid/naz/riz) Editor : Achmad RW