Sebuah foto hitam putih koleksi Universitas Leiden Belanda menggambarkan kondisi Stasiun Jombang saat dibumihanguskan para pejuang sekitar tahun 1948 silam. Foto aerial yang diabil dari pesawat jenis catalina amfibi itu, memperlihatkan bagaimana kondisi bangunan di Stasiun Jombang, hangus dilahap si jago merah. Ya, itu adalah sepenggal foto yang didapat Jawa Pos Radar Jombang tentang bagaimana para pejuang tanah air membumihanguskan obyek vital di Jombang agar tak dikuasai Belanda.
”Kejadian itu terjadi sekitar akhir Desember 1948 dimana semua bangunan di komplek area Stasiun Jombang dibumihanguskan para pejuang kita,’’ ujar M Faisol penelusur sejarah Jombang kemarin (12/8).
Diceritakan, pembumihangusan itu memang sengaja dilakukan para pejuang revolusi kemerdekaan yang terdiri dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dan TNI. Itu dilakukan agar obyek vital seperti stasiun yang merupakan tempat pemberhentian kereta api tidak dipakai atau dimanfaatkan Belanda yang kala itu hampir menguasai area Jombang.
”Jadi di akhir 1948 terjadi agresi militer Belanda ke 2. Di mana penjajah berhasil menembus pertahanan pejuang kita di Jombang,’’ jelas dia.
Selain Stasiun Jombang, ada juga beberapa bangunan yang ikut dibumihanguskan para pejuang. Di antaranya, Lapas Jombang, rumah asisten residen (sekarang SMAN 1 Jombang), klub sosialita Belanda (saat ini Gedung Telkom), stasiun kota yang terletak di belakang Pasar Legi, Jembatan Ploso, Mojoagung, dan Jembatan Sumobito juga ikut dibumihanguskan. ”Dalam membumihanguskan gedung-gedung dan obyek vital di Jombang, pejuang kita menggunakan bubuk mesiu sebagai bahan peledak, minyak tanah dan bahan lain untuk membakar gedung,’’ jelas dia.
Dijelaskan, proses pembakaran sendiri mulai menjelang malam Natal 25 Desember hingga beberapa hari ke depan setelah itu. Ia menyebut, alasan pejuang melakukan hal tersebut karena mempertahankan Indonesia khususnya di Jombang mulai terancam. ”Sehingga ada tugas dari TNI pusat untuk segera membumihanguskan obyek vital di Jombang,’’ tegasnya.
Setelah usai semua obyek vital dibumihanguskan, Belanda tak bisa memanfaatkan bangunan di Jombang. Bangunan-bangunan itu kemudian berangsur dibangun Pemerintah Republik Indonesia usai menerima pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949. ”Setelah itu secara berangsur mulai dibangun kembali,’’ pungkas dia. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW