Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cerita Pembudidaya Ikan Hias di Jombang saat Harga Ikan Jatuh

Achmad RW • Senin, 25 Juli 2022 | 13:20 WIB
Ferry saat merawat ikan koi yang ia budidayakan. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)
Ferry saat merawat ikan koi yang ia budidayakan. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)
JOMBANG - Ikan hias masih diminiati banyak kalangan. Tak heran para penghobi rela merogoh kocek cukup dalam untuk mendapat ikan yang diidamkan. Tentu ini juga menjadi ladang bisnis yang bagus untuk sebagian orang mencari cuan dari budi daya ikan hias ini.

Di belakang rumah milik salah satu warga di Geneng Gang III, Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang berjejer rapi puluhan kolam ikan. Terlihat satu orang tengah sibuk memberi makan ikan-ikannya.

Ya inilah Fery Joko, 43, pembudidaya ikan hias. Tidak hanya ikan koi yang terkenal ia juga beternak ikan hias lainnya seperti, ikan guppy, dan ikan balon. Asam manis sudah ia lalui selama dua tahun beternak ikan hias. Mulai gagal panen hingga harga ikan yang anjlok. ”Dulu awal beternak itu tahun 2019 karena iseng. Karena hobi juga jadi keterusan,” katanya.

Awalnya bapak dua anak ini hanya memiliki 13 ekor berbagai jenis ikan koi, dan belasan pasang ikan guppy. Saat ini sudah mengembang hingga puluhan ribu ekor yang ditaruh di 30 kolam miliknya. ”Dulu pertama tidak jadi telurnya. Kemudian yang kedua jadi,” bebernya.

Hanya saja, pada saat telur sudah menetas dan ikan berusia dua bulan, seluruh ikannya mati karena curah hujan yang terus-menerus. ”Seluruh ikan di kolam mati semua karena hujan terus,” imbuhnya.

Tidak menyerah begitu saja, Fery juga belajar budi daya ikan hias memanfaatkan di media sosial dan belajar di peternak lain. ”Bagaimana cara mengatasi penyakit, bagaimana pemilahan saya belajar terus,” ungkapnya.

Dikatakannya, budi daya ikan hias berbeda-beda. Yang paling sulit memang budi daya ikan koi. Karena juga harus merawat air agar ikan tidak gampang terkena penyakit. ”Air harus diganti satu bulan sekali. Kalau sudah terkena penyakit harus langsung dikarantina selama satu minggu atau sampai ikan sembuh,” tuturnya.

Tidak berhenti di situ saja, pada akhir tahun kemarin harga ikan koi sangat hancur. Bahkan, harga ikan koi sampai anjlok di kisaran Rp 5 ribu per ekor. ”Karena banyak peternak dan hasil panennya melimpah harganya hancur. Alhamdulillah sekarang sudah normal,” terangnya.

Jenis ikan koi hasil budi daya Fery berbagai macam, mulai jenis Kohaku, Shanke, Ogon dan lain lagi. Fery menjual hasil ikan hiasnya tergantung dari ukurannya. Mulai dari ukuran 10-15 cm dengan harga Rp 30 - Rp 50 ribu per ekor dan 15-20 cm dengan harga Rp 150 - Rp 200 ribu per ekor. ”Yang paling diburu jenis Kohaku, untuk guppy paling diburu jenis Red. Untun guppy harganya Rp 150 ribu satu jodo,” bebernya.

Saat ini buah manis tidak mudah menyerah Fery didapatkan. Dalam satu bulan omzet Fery mencapai 10 juta dari hasil penjualan ikan koi dan guppy. ”Untuk penjualannya melalui media sosial Facebook dan grup-grup pencinta koi,” pungkas Fery. (yan/naz/riz) Editor : Achmad RW
#budidaya #ikan guppy #ikan hias #Jombang #jombatan #ikan koi