Selama ini, Yusnia tinggal bersama ibunya, Mujiati, dan adiknya Taura Muji Alamsyah di Desa Blimbing, Kecamatan Gudo. Tinggal di sebuah bangunan kecil dua petak bekas toko milik saudaranya. Satu ruangan dipakai tempat menyimpan barang, satu ruangan lain digunakan sebagai tempat tidur.
Yusnia masih terdaftar sebagai siswa kelas 12 SMKN 2 Jombang, sedangkan Taura siswa SMPN 2 Diwek. Sang ibu kini menderita pengapuran kaki sehingga tidak dapat berjalan normal. Jangankan bekerja, untuk mencuci piring saja, ibunya sering terjatuh.
Menurut Mujiati, dua minggu terakhir, keluhan sakit perut Yusnia tak dapat diobati dengan obat yang biasa diminum. Hingga akhirnya, Sabtu (2/7) ia dilarikan ke RSUD Jombang untuk menjalani perawatan. Setelah diperiksa, ternyata usus anaknya sudah pecah sehingga harus menjalani operasi khusus.
”Kami mendapat Kartu Jombang Sehat, tapi tidak dapat mencover 100 persen, hanya 50 persen,” ungkapnya. Kini, tubuh anaknya masih tergolek lemah untuk menjalani pemulihan di RSUD Jombang.
Sebenarnya, penyakit yang diderita Yusnia diketahui sejak duduk di bangku SD. Gejalanya sering sakit perut. Pernah diperiksakan ke dokter spesialis kandungan, tapi katanya baik-baik saja. Sehingga ia tak pernah menganggap ada penyakit serius hingga terjadi infeksi usus.
Sebelum sang suami meninggal, Mujiati masih memiliki daya untuk menyekolahkan anaknya dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Suaminya, sopir angkutan umum Jombang-Pare memiliki penghasilan tetap. ”Setelah ayahnya meninggal, tidak ada pemasukan sama sekali,” jelasnya.
Untuk hidup sehari-hari, Mujiati dibantu adik iparnya setiap bulan. Ia masih bersyukur karena uang sekolah dibantu saudara lain dan tetangga. Sementara ia sendiri, tidak mampu bekerja. Kedua kakinya tak kuat berjalan. Tangan kanannya juga tak kuat mengangkat benda sedikit berat.
Hal senada disampaikan Mawulan Lailiyah, adik Mujiati yang kini membantu mengurus anaknya di rumah sakit. Mawulan juga yang mencarikan jalan untuk bisa mendapatkan keringanan pengobatan. ”Dulu waktu masih SD perutnya sering sakit. Sejak ibunya sakit, dia tidak bisa masak dan tahan lapar, jadi jarang makan akhirnya sampai seperti ini,” bebernya.
Diperkirakan, biaya pengobatan yang diperlukan Yusnia mencapai Rp 20 juta. Setelah ada bantuan KJS 50 persen, maka masih Rp 10 juta yang harus dibayar sendiri. ”Sekarang kakak saya hanya pegang Rp 3 juta, itupun pinjam saudara-saudara, tidak tahu nanti ke depan seperti apa,” pungkasnya. (wen/bin/riz) Editor : Achmad RW