YA Allah Gusti Pangeran, wayae dagelan metu, lakok udan. Muga2 udane iki membawa barokah.
Melok-melok kembang turi, kembang kecubung nuk pinggir kali. Ono arek wedo ayu tak tutno teko mburi, bareng tak ambung lakok keliru banci.
Itulah parikan awal yang disampaikan Cak Kentut dalam cuplikan video Youtube Ludruk Budhi Wijaya. Pentas yang mengusung lakon Salah Kamar itu mampu menyedot 13.000 penonton. Terlebih, pemeran dagelan itu dibarengi Cak Kuntet.
Ya, Ludruk Budhi Wijaya didirikan Sahid Pribadi warga Desa Ketapangkuning, Kecamatan Ngusikan, 1985 silam. ”Saya generasi kedua, ludruk Budhi Wijaya didirikan ayah saya tahun 1985,’’ ujar Didik Purwanto, 43, pimpinan ludruk Budhi Wijaya kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (19/6).
Sebelum mendirikan ludruk Budhi Wijaya, sang ayah dulu seorang pedagang asongan. Ia menjual minuman dan makanan kepada penonton yang melihat pentas ludruk. Selain itu, ayahnya juga sering membantu kegiatan pentas ludruk Warna Jaya yang juga asal Jombang sendiri. ”Pak Sahid dulunya panjak (pemukul musik gamelan),’’ ceritanya.
Namun suatu hari, grup itu terlibat konflik internal setelah ada salah satu pemain yang tidak dibayar. Akhirnya, satu persatu, anggota grub terpisah. ”Namun pak Sahid kasihan dan membantu cari solusi,’’ kenang dia. Upaya membantu itu berhasil dan konsisten dilakukannya. Sehingga lambat laun sang ayah mendirikan ludruk sendiri yang diberi nama Budhi Jaya.
Menurutnya, aktivitas pentas ludruk inipun dimulai dari nol. Termasuk mengenalkan diri di kecamatan hingga ada acara hajatan di masyarakat. Gethok tular dari mulut ke mulut, menjadikan ludruk ini lama kelamaan dikenal. ”Setelah pentas di berbagai kecamatan, lambat laun terkenal. Pak Sahid dipercaya pemain karena komitmen memberikan gaji,’’ jelas dia.
Ludruk Budhi Jaya mulai terkenal sekitar 1990-an. Setiap pekan, mereka selalu keluar kandang untuk pentas. Bahkan, di tahun itu pula nama ludruk Budhi Jaya berganti nama menjadi Budhi Wijaya. ”Puncak ramai ramainya 2005 lalu, setahun kita sempat mendapat 250 job di berbagai tempat,’’ paparnya. Tak hanya di Jombang, Budhi Wijaya juga sering pentas di berbagai kota di Jawa Timur. Mulai Mojokerto, Pasuruan, Gresik, Probolinggo, dan Lamongan.
Setelah Sahid meninggal dunia 2010 lalu, ia diminta meneruskan jejak sang ayah. Meski awalnya tidak punya cita- cita di bidang kesenian, namun mau tidak mau amanat itu harus dijalankan. "Sejak kecil saya sering diajak keliling ayah untuk pentas, lambat laun mulai paham,’’ papar dia.
Ia mengaku, job yang masuk dalam setahun tak sebanyak saat dipegang sang ayah dulu. Seiring perkembangan kesenian modern, ludruk seakan-akan tergerus zaman. Hal ini terlihat dari job manggung yang cenderung menurun. Paling-paling, dalam setahun pentas 70 kali di berbagai tempat. ”Kalau sekarang memang turun terus. Namun kita tetap eksis. Antusiasme masyarakat juga tetap banyak,’’ bebernya.
Didik mengaku punya strategi tersendiri dalam mempertahankan kesenian ludruknya. Bisa tetap eksis dan survive di era sekarang. Selama pandemi, tampilan ludruknya masih bisa dinikmati. Secara khusus, grup tetap tampil melalui channel Youtube. Saat ini sudah ada 8 lakon yang sudah bisa dinikmati kapan saja. Bahkan, lakon judul Salah Kamar terlihat paling banyak dilihat hingga tercatat 13.000 penonton.
Lebih dari itu, pentas ludruk sekarang sengaja ia kemas dengan mengusung tema kekinian. Selalu menyajikan cerita menarik, humoris dengan topik yang sedang viral sekarang. ”Seperti itu yang kita sajikan kepada penonton, sehingga mereka tidak bosan,’’ pungkas Didik. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW