Aktivitas jual beli masih terlihat di salah satu sudut Pasar Pon Jombang, Sabtu (4/6). Meski waktu menunjukan pukul 09.30, para pedagang yang mayoritas menjajakan unggas ini masih menggelar lapaknya.
Ada yang menggunakan rengkek di bagian jok belakang sepeda motor, ada juga menggunakan mobil pikap dengan membawa box. Mereka mayoritas menjual ayam hidup. Mulai dari ayam jago hingga ayam potong. Sebagian juga menjajakan burung dara dan kelinci.
Salah satunya Nawawi, pedagang asal Dusun Sentulan, Desa Bongkot, Kecamatan Peterongan. Dia biasanya berjualan sejak pukul 06.30 hingga pukul 10.00. ”Sudah jualan di sini 25 tahun,” kata Nawawi yang kini berusia 55 tahun ini.
Dia menjual ayam kampung, di tempatkan rengkek jok belakang sepeda motornya. ”Dapatnya ya beli di kampung-kampung lalu dijual lagi di sini,” imbuh dia.
Karena sudah lama berjualan di pasar itu, Pasar Pon bisa dikatakan menjadi sentra penjualan unggas, selain pasar burung Tunggorono. ”Kalau cari ayam yang hidup ya ke Pasar Pon, pasar induknya ya di sini,” lanjut Nawawi.
Nawawi mengaku sudah mendengar terkait rencana relokasi pedagang unggas dari Pasar Pon tahun ini. Ada beberapa pilihan tempat yang akan dijadikan tempat relokasi. Pasar Tunggorono, dan Pasar Hewan Tunggorono, serta Pasar Hewan Peterongan. ”Kalau di Pasar Tunggorono itu kurang luas tempatnya,” kata dia.
Sementara Pasar Hewan Peterongan, lanjut Nawawi, lebih pas karena tempatnya masih luas. Namun, yang membuat dia berat, ketika sudah dipindah ke sana diprediksi bakal pengaruh ke pelanggan. ”Ya aslinya mau di sini, cuma dipindah mau bagaimana lagi,” tutur dia.
Meski mengaku berat, menurut Nawawi, dia akan tetap mengikuti pedagang yang lain. ”Nunggu keputusannya nanti bagaimana. Soalnya kemarin ada pilihan tiga pasar itu,” kata Nawawi.
Lain lagi dengan Sumarsih pedagang unggas lainnya. Dia berharap Pasar Pon yang akan direhab tak berdampak ke pedagang unggas. ”Mudah-mudahan dibangun saja pasarnya, nggak ada yang dipindah,” ujar Sumarsi salah seorang warga Kelurahan Kaliwungu, Kecamatan Jombang ini.
Kendati begitu, dia mengaku pasrah. ”Kalau benar pindah ke Peterongan ya mau tidak mau babat alas lagi di sana. Langganannya sudah tahu kalau jualannya di sini,” kata Sumarsih yang berjualan sejak dua tahun terakhir ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang Hari Oetomo melalui Kabid Sarana Perdagangan dan Barang Pokok Penting Nursila Cahyaningrum menuturkan, sudah ada rapat lanjutan dengan pedagang beberapa waktu lalu. Direncanakan minggu ini dilakukan survey ke tiga pasar yang menjadi opsi tempat relokasi. ”Jadi rencananya Senin atau Selasa kita bersama-sama akan survey ke lapangan. Teman-teman pedagang bersedia untuk survey,” kata Nursila.
Menurut dia, dalam pembahasan itu sebenarnya sudah ada keputusan. Mengarah ke Pasar Hewan Peterongan. ”Cuma teman-teman mayoritas ini minta survey dahulu dan contonya ke Pasar Hewan Peterongan,” imbuh dia.
Dari pendataan yang sudah dilakukan, ada 140 pedagang yang akan boyongan. ”Jadi ceritanya dulu, mungkin haya satu atau dua kemudian lama-lama tambah banyak. Sementara aturannya tidak boleh mencampur adukkan pedagang sayur dengan pedagang ayam hidup,” ujar Nursila.
Karena itu, para pedagang akan direlokasi secara permanen. Di pasar itu tak ada lagi menjajakan barang hidup. ”Sehingga tidak kumuh dan bisa bersih lagi,” lanjut dia.
Sebelum memindah pedagang ayam Pasar Pon, menurut Nursila sebelumnya juga pernah melakukan hal serupa. Tepatnya ketika Pasar Peterongan dirombak. ”Jadi penah, yang jualan burung atau ayam hidup di Pasar Peterongan dipindah ke Pasar Hewan Peterongan,” kata Nursila. (fid/naz/riz) Editor : Achmad RW