Nasrul Ilah, pemerhati sejarah Jombang menyampaikan, area di Situs Pandansili ditengarai memiliki masa lalu berlapis. Yakni kerajaan kuno dan era zaman Belanda. Dugaan pertama, mengenai peninggalan kerajaan kuno dibuktikan dengan temuan struktur bata yang kini masih terpendam. Kemudian, ada temuan gerabah lokal hingga keramik yang masih banyak ditemukan di lokasi.
”Kini meninggalkan serpihan kecil-kecil karena lingkungannya tergerus oleh upaya pengolahan tanah untuk pertanian dan perkebunan,’’ katanya. Menurut dia, temuan bata kuno dan pecahan gerabah mengindikasikan peninggalan zaman kuno. Namun untuk memastikan dari zaman apa, perlu dilakukan ekskavasi dan kajian lebih lanjut. ”Dulu merupakan bagian penting dari adanya kerajaan kuno,’’ tegasnya.
Tak jauh dari titik ditemukannya pecahan gerabah, juga ditemukan watu lesung. Cak Nas, sapaan akrabnya menduga watu lesung itu peninggalan zaman Belanda. ”Dulu merupakan bekas permukiman atau mess pengelola dan pekerja perkebunan karet yang menyisakan tinggalan lesung batu,’’ papar dia.
Lesung batu tersebut dulu digunakan pekerja untuk mengasah alat perkebunan. Sehingga terdapat cekungan pada batu. ”Setelah kami tinjau bersama, alat tersebut merupakan ungkal atau alat pengasah senjata,’’ bebernya.
Dihubungi terpisah, Kades Ngampungan Rohan, membenarkan temuan lesung batu atau yang biasa disebut watu lesung sebagai peninggalan zaman Belanda. Pada 2020, batu tersebut berada di sebuah bangunan bekas rumah orang Belanda. Namun kini sudah dipindah ke wisata Pandansili sebagai sarana edukasi. ”Dipindahkan 20 Mei 2020, dari bekas rumah tuan Njakson tempat asal batu lesung ditemukan, ke Wisata Pandansili,’’ terangnya.
Menurut dia, rumah atau bangunan tersebut diperkirakan sebagai tempat transit keluar hasil bumi dan produksi karet dari pabrik karet dekat wisata Pandansili. ”Sampai saat ini masih ada bekas jembatan dan jalan yang melalui bukit,’’ pungkas Rohan. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW