Di Pasar Wage Kabuh misalnya, petugas Dinas Peternakan melakukan skrining ketat terhadap pedagang yang membawa sapi masuk. Setiap sapi diperiksa bagian mulut dan kuku. Petugas juga meyemprot truk dan badan sapi dengan disinfektan terhadap semua sapi.
Pemeriksaan yang berlangsung hingga dua jam sejak pukul 06.00 itu menemukan satu sapi suspek PMK. Seekor sapi yang diangkut pedagang asal Ngimbang Lamongan itu lantas diminta balik dan dilarang masuk Jombang.
”Setelah disemprot disinfektan, kemudian diperiksa bagian mulut dan tubuh sapi untuk mengetahui apakah suspek PMK atau tidak. Jika aman bisa langsung masuk pasar, sebaliknya jika tidak langsung diimbau putar balik,” ujar Kepala Dinas Peternakan Jombang Agus Susilo Sugioto, di lokasi.
Dari hasil pemeriksaan itu tim menemukan seekor sapi suspek PMK. Tanda ini diketahui dari ciri-ciri umum penyakit PMK yang berada di tubuh sapi. Tak berbelit belit, petugas meminta pemilik sapi tidak beroperasi ke pasar dan diminta untuk putar balik arah pulang. ”Ada satu ekor sapi suspek PMK karena ada bengkak di bagian lidah dan gusi,’’ tambahnya.
Agus menegaskan, tingkat penularan wabah PMK cukup tinggi mencapai 90-100 persen. Dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkan juga tinggi. Dalam beberapa hari terakhir, sudah ada lima ekor anak sapi yang mati dan 104 ekor dinyatakan suspek PMK. “Data itu per Kamis, belum tahu kalau hari ini karena teman-teman masih di lapangan,” katanya.
Ia menambahkan, pembatasan sapi yang masuk Jombang akan dilakukan secara berkala ke depan. Pada Minggu (15/5) besok, pihaknya berencana melakukan skrining di Pasar Sapi Ngoro. Meski jumlah sapi di Jombang banyak terindikasi PMK, Agus menyebut belum ada langkah penutupan. ”Kita tunggu lebih lanjut bagaimana kondisi di Jombang. Kalau perkembangannya terus, kemudian positif tentu pasar hewan akan kita tutup sementara,’’ pungkas dia. Editor : Achmad RW