’’Menyebar di seluruh kecamatan, tapi paling banyak ada di Mojowarno, enam kasus awal tahun ini,’’ kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Jombang Haryo Purwono. Kasus HIV/AIDS tertinggi kedua ada di Kecamatan Jombang dengan tiga kasus.
Temuan baru HIV/AIDS dari tahun ke tahun cukup tinggi. Rata-rata lebih dari seratus per tahun.
Tahun 2020 tercatat ada 179 kasus. Tertinggi di Kecamatan Peterongan 15 kasus, Mojowarno 13 kasus, Jombang 11 kasus, dan Mojoagung 11 kasus.
Sementara tahun 2021 tercatat ada 152 kasus HIV/AIDS. Kasus tertinggi ditemukan di Kecamatan Jombang 17 kasus. Lalu Kecamatan Mojoagung 13 kasus. Kecamatan Sumobito 13 kasus. Kecamatan Ngoro 12 kasus dan Kecamatan Mojowarno 10 kasus.
Sementara tahun ini hingga 28 April kemarin, tercatat 43 kasus HIV AIDS. Tertinggi di Mojowarno enam kasus dan di Kecamatan Jombang tiga kasus.
Dari tahun ke tahun, HIV/AIDS lebih banyak menyerang usia produktif, antara 25-49 tahun. ’’Jenis kelaminnya mayoritas laki-laki,’’ ujarnya. Haryo mengatakan, penyebab HIV AIDS yang paling banyak karena hubungan seksual.
Pasien HIV/AIDS mendapatkan penanganan berupa pengobatan baik di rumah sakit maupun puskesmas. Pasien juga mendapatkan pendampingan dari kelompok peduli AIDS atau kelompok sebaya.
”Jika sudah terdeteksi, kami juga melakukan pelacakan bagi penderita yang belum mendapatkan pengobatan. Juga ada pemantauan pengobatan melalui test viral load di RSUD Jombang untuk mengetahui progres pengobatan,” paparnya. Haryo menegaskan, pengobatan untuk HIV/AIDS gratis.
Sebagai upaya pencegahan, sosialisasi mengenai HIV/AIDS harus gencar dilakukan, utamanya untuk anak-anak sekolah. Sosialisasi juga dilakukan di desa-desa melalui puskesmas.
Skrining HIV/AIDS juga dilakukan pada penderita TBC, juga pada ibu hamil. Untuk anak dari ibu ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) kita berikan makanan tambahan dan susu,” ungkapnya. Editor : Achmad RW