Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Dulunya Sanggar Pamujan, Didirikan Tokoh Penyebar Umat Hindu

Rojiful Mamduh • Jumat, 4 Maret 2022 | 15:26 WIB
Photo
Photo
JOMBANG – Pura Giri Pancaringan yang terletak di Dusun Ganten, Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang merupakan salah satu pura tertua di Jombang. Pura ini dulunya merupakan sanggar pamujan.

Bangunan Pura Giri Pancaringan memiliki beberapa bagian. Di antaranya, Padmasana tempat pemujaan Sang Hyang Widhi, Pintu Agung serta tempat sembahyang di depan Padmasana, serta Balai Kol-Kol tempat mengumumkan saat ada umat Hindu yang meninggal dunia.

Pura Giri Pancaringan didirikan salah satu tokoh penyebar agama Hindu bernama Ja’un Gatot Suseno, 83, pada 1994. Sebelum menjadi pura, dulunya merupakan sanggar pamujan. ”Kemudian ada umat Hindu bernama Pak Wagimen yang memberikan tanahnya untuk dibangun pura. Akhirnya kita bangun pura ini,” ujar Jaun kepada Jawa Pos Radar Jombang, Rabu (2/3).

Pria kelahiran Jombang, 19 Maret 1939 ini menyampaikan, tujuannya didirikannya Pura Giri Pancaringan tak lain sebagai fasilitas ibadah umat Hindu yang berada di Desa Wonomerto dan sekitarnya. ”Sebelum pura dulunya sanggar pamujan. Kemudian kita ingin memiliki pura yang lebih representatif untuk umat,” jelas dia.

Ja’un menceritakan, ia sendiri adalah tokoh penyebar umat Hindu pertama kali di Wonosalam. Ia dibantu tiga orang lainnya, yakni Sunaryo, Sumani dan Saeman ketiganya warga Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam.

Sunaryo membantu memimpin persembayangan sementara Sumani dan Saeman membantu menyebarkan agama Hindu. Dia sendiri sebagai pemangku atau pengarah. ”Saya mulai menyebarkan ajaran Hindu tahun 1960. Dari beberapa orang kemudian sekarang menjadi 455 umat di Wonosalam,” jelas dia.

Seiring perkembangan jumlah umat Hindu, jumlah pura di Kecamatan Wonosalam terus bertambah. Di antaranya Pura Giri Wijaya di Galengdowo, Giri Anjasmara di Desa Jarak, Pura Tri Buana di Dusun Wates, Desa Galengdowo dan Pura Darma Guna di Desa Jarak. ”Sekarang di setiap pura sudah ada pemangku sendiri-sendiri. Begitupun ketua PHDI saya serahkan umat lain, yakni Pak Suwandi asli Desa Jarak,” papar dia.

 

Jadi Pusat Pelaksanaan Ritual Tawur Agung

SELAIN digunakan tempat ibadah umat Hindu di Desa Wonomerto, Pura Giri Pancaringan juga dijadikan pusat ritual Tawur Agung setiap menyambut Hari Raya Nyepi. Tak lain, karena umat Hindu se Jombang ingin menghormati sesepuh yang menyebarkan agama Hindu.

”Tradisi ogoh-ogoh kita adakan sejak 2013 setiap tahun terpusat di sini. Namun sejak pandemi Covid-19 kita tiadakan,” terang Ja’un kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Ia menambahkan, tradisi Tawur Agung dan Ogoh-Ogoh selalu digelar terpusat di Pura Giri Pancaringan. ”Kesepakatan umat Hindu, mereka ingin menghargai asal usul penyebar Hindu. Dalam hal ini saya sendiri. Bahasa Jawanya, mereka tidak ingin dikatakan kacang lupa kulitnya,” terangnya.

Di Kecamatan Wonosalam, umat Hindu hidup rukun dan saling bekerja sama dengan umat agama lainnya. di Dusun Ganten sendiri, kurang lebih ada 10 kepala keluarga (KK) yang beragama Hindu. ”Kita tetap rukun dan saling menjaga toleransi,” pungkasnya. Editor : Rojiful Mamduh
#Sanggar Pamujan #Pura Giri Pancaringan #Tokoh Penyebar Umat Hindu