”Sudah tiga kali tanam setelah banjir terus-terusan,” kata Surosono salah seorang petani. Sawah miliknya tak semua terdampak banjir sehingga masih ada yang bisa disulami. Namun, sebagian petani lainnya membiarkan tanaman padinya mati. ”Yang dibiarkan nggak ditanami lagi itu paling luas terkena banjir,” imbuh dia.
Menurutnya, karena terus-terusan terendam banjir, maka pemilik sawah membiarkan sementara sawahnya dalam keadaan kosong. ”Kemarin ada yang kesulitan cari benih. Lalu ada yang takut kena banjir lagi, soalnya masih hujan,” ujar Suroso.
Ia menyebut, sebagian besar sawah yang terendam banjir itu berdekatan dengan saluran air. ”Kalau dipaksa tanam nanti telat sama yang lain,” tambahnya.
Sementara itu, Penjabat (Pj) Kades Kedungbetik Said, tak menampik bila sebagian besar petani di tempatnya tidak melakukan tanam ulang setelah kali ketiga kebanjiran. ”Karena petani itu sudah tiga kali tanam, terus terendam air,” jelasnya.
Dijelaskan, ada dua dusun yang paling merasakan dampak banjir tersebut. Yaitu Dusun Ngemprak dan Dusun Kedungmacan. Sekitar ada 12 petak sawah yang dibiarkan kosong. ”Sekarang akhirnya tanam tidak berbarengan. Usia padi berbeda-beda, yang ketinggalan ya dekat sungai,” imbuh dia.
Menurutnya, beragam alasan petani tak melakukan tanam ulang. Mulai kekhawatiran kembali terendam hingga terkendala modal. ”Karena waktunya sudah telat, bibit juga sulit. Kalau tetap tanam jelas waktunya telat dengan yang lain, nanti mala diserang burung. Biasanya begitu,” beber Said.
Pemandangan sama juga terlihat di Dusun Sapon, Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben. Lahan pertanian terendam masih membekas. Tanah yang sudah berlumpur itu diikuti tanaman padi mati.
Sementara itu, Ketua Gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Jombatan Abdul Wahab, membenarkan langkah yang dilakukan petani ini. ”Pokoknya yang dekat saluran sementara tidak ditanami lagi,” ujarnya.
Termasuk tanaman padi miliknya, sementara juga dibiarkan. Ada banyak pertimbangan petani tak melanjutkan tanam. ”Benihnya juga nggak ada. Kedua, teman-teman petani ini sudah pegel istilahnya,” imbuh dia.
Sebab, sudah tiga kali tanam, namun padi terus terendam banjir. ”Musim ini yang parah. Biasanya setiap musim hujan pasti banjir. Cuma tahun ini sudah enam kali banjir, tiga kali tanam. Siapa yang nggak pikir-pikir lagi,” pungkasnya. Editor : Rojiful Mamduh