Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Tanggul Afvoer Sapon Jombang Kritis

Rojiful Mamduh • Rabu, 2 Februari 2022 | 15:47 WIB
Warga berusaha membendung air luapan
Warga berusaha membendung air luapan
JOMBANG – Sejumlah petani di sekitaran saluran pembuang (Afvoer) Sapon di Dusun Ngemplak, Desa Podoroto, Kecamatan Kesamben waswas. Menyusul di sejumlah titiknya, kondisi tanggul saluran sudah kritis alias rawan ambrol. Beberapa titik bahkan airnya meluap menuju area persawahan warga.

Pantauan di lokasi, salah satu warga terlihat sibuk menancapkan sejumlah batang bambu di titik tanggul kritis. Terlihat luapan air dari afvoer Sapon mengalir cukup deras mengarah ke area persawahan warga.

Khawatir kerusakan tanggul terus meluas, dia pun membuat tanggul darurat dari batang pisang untuk menahan luapan air. Terlebih luapan air menuju area persawahannya. ”Dibendung pakai pohon pisang, kalau tidak begitu air terus masuk ke sawah,” kata Umam kepada Jawa Pos Radar Jombang, Selasa (1/2) kemarin.

Dikatakan, kondisi tanggul saluran Afvoer Sapon di wilayahnya sudah lama kritis. Mayoritas sudah tipis dan rentan jebol. Saking tipisnya, di sejumlah titik tanggul bahkan seringkali air meluap, sehingga semakin mengancam tanggul.

Karena belum ada penanganan dari pihak terkait, warga sekitar terpaksa menambal sejumlah tanggul dengan material seadanya. ”Dulu sudah dilaporkan ke poktan dan desa, cuma ya begitu, belum pernah ada tindakan,” imbuh dia.

Diakui, saat ini sawah miliknya tak lagi terendam. Namun, karena debit air saluran masih tinggi, diikuti kondisi tanggul mengkhawatirkan, membuat dia sementara tak kembali menanam seluruh sawahnya. ”Takutnya setelah saya tanami lagi, sore hujan deras lalu banjir lagi. Ini saja tanggulnya sudah jebol, airnya kemana-mana,” sambung Umam.

Dikatakan, sawah miliknya seluas 2.100 meter persegi. Setelah beberapa waktu lalu terendam, kini dia sudah tiga kali tanam. Namun, khusus berada dekat tanggul kritis untuk sementara dibiarkan. ”Yang mati saya biarkan. Nunggu air sungainya nggak tinggi lagi, baru berani tanam,” tutur dia.

Sembari memasang batang pisang dikatakan, selain menjadi problem utama banjir pertanian setempat, mayoritas kondisi tanggul saluran pembuang Sapon mengkhawatirkan. ”Posisi yang dekat jalan agak lumayan, ada pasangan penahannya, jadi masih aman. Coba sebelah sawah ini sampai ke ujung, tanah semua, itupun tipis,” lanjut dia sembari menunjuk tanggul saluran.

Karena itu dia berharap, ada perbaikan pada saluran itu. Sebab, selain menjadi persoalan banjir pertanian, kondisi tanggul juga lebih banyak tak utuh. ”Kalau bisa nanti selain dikeruk, tanggulnya juga diperbaiki. Supaya, petani yang sawahnya dekat dengan tanggul merasa aman. Masak setiap tahun banjir terus,” kata Umam.

Hal serupa diungkapkan Marnik petani lainnya. Saat ini sawah miliknya sudah kembali ditanami padi. Namun, dia selalu waswas. ”Masih musim hujan, biasanya ya tetap banjir,” sahut Marnik.

Beruntung jarak sawah miliknya dengan saluran pembuang tak sebegitu dekat. Masih ada sela jalan raya. Sehingga, untuk saat ini seluruh sawah miliknya sudah ditanmi lagi. ”Memang yang dekat sungai belum berani tanam lagi. Takutnya banjir lagi, jelas rugi banyak. Ongkos perawatan sama hasil panen nggak sebanding,” kata Marnik.

Photo
Photo
Air meluap dari saluran ke sawah Editor : Rojiful Mamduh
#BBWS Brantas #Pemkab Jombang #Tanggul #kritis