Seperti terpantau beberapa hari lalu, jembatan itu sudah tersambung lagi. Besi dan plat menyambung ke konstruksi jembatan lama yang masih tersisa. Hanya saja, lebar jembatan tidak sama.
Menurut Harianto salah satu warga, jembatan itu disambung tahun lalu setelah warga setempat urunan bersama membangun jembatan darurat. ”Ini baru dibangun tahun lalu. Ditambahi bagian tengah saja,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.
Dikatakan, sejak jembatan terputus Januari 2020 lalu, tidak ada penanganan yang terlihat. Lantaran tidak ada perbaikan itulah masyarakat setempat memutuskan untuk membangun jembatan darurat. ”Sehingga waktu itu urunan seikhlasnya, ada yang Rp 50.000, ada juga Rp 100 ribu per orang,” imbuh dia.
Langkah itu dilakukan karena jembatan merupakan akses jalan yang paling diperlukan. Selain menghubungkan Dusun Banjarjo dengan Dusun Ketapanglor, jembatan tersebut sekaligus sebagai akses terdekat warga Desa Sumbernongko, Kecamatan Ngusikan.
”Kasihan anak-anak sekolah, kalau tidak lewat sini harus memutar terlalu jauh. Itu pun lewat dam, kalau airnya tinggi kan membahayakan,” sambung Harianto.
Dengan pertimbangan itulah kemudian dibangun akses jembatan darurat. Hanya saja, jembatan darurat itu bukan berasal dari potongan bambu. Melainkan besi dengan lantai plat. ”Tidak selebar dulu, hanya 1 meter,” ujar dia. Sehingga jembatan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
”Harapan masyarakat yang penting jembatan ini dibangun lagi, daripada bangun jalan di sawah. Soalnya jembatan ini untuk keperluan banyak orang, anak sekolah, mlijo,” kata Harianto lagi.
Dikonfirmasi terpisah, Kades Kudubanjar Kuswanto membenarkan. Setelah jembatan putus, sampai sekarang memang tidak ada langkah konkret yang ditunjukkan Pemkab Jombang. ”Sebenarnya pernah disampaikan akan diperbaiki, tapi karena Covid-19, perbaikannya mundur,” jelasnya.
Lantaran tidak ada kejelasan itulah akhirnya pemdes menggelar musyawarah bersama tokoh masyarakat. Jembatan dilakukan penanganan darurat. ”Kami waktu itu diminta kalau buat darurat sesuai dengan keamanan dan kenyamanan, akhirnya pakai besi dan lantainya dari plat,” imbuh dia.
Langkah swadaya itu dilakukannya mengingat jembatan sebagai akses penting bagi masyarakat sekitar. Selain penghubung antar dusun, juga antar desa dua kecamatan, yaitu Kecamatan Ngusikan ke Kecamatan Kudu. ”Cuma hanya bisa dilewati sepeda motor, lebarnya 1,2 meter,” tutur Kuswanto.
Kendati demikian, dia berharap pemkab yang sudah merencanakan perbaikan jembatan, harus tetap direalisasikan. ”Semoga janji pemkab 2023 benar-benar terealiasi. Nggak mundur lagi, supaya fasilitas warga dan peningkatan ekonomi bisa kembali lancar,” lanjut dia.
Sebab, warga yang hendak melintas dengan menggunakan roda empat harus bersabar. ”Sekarang jadinya ngimbal, mobil sudah tidak bisa lewat. Seperti kalau mobil siaga desa, berhenti sebelah selatan, yang sakit dibonceng pakai motor dulu,” pungkasnya. Editor : Rojiful Mamduh