JOMBANG – Apresiasi mengarsir mamamia yang diadakan untuk memperingati hari ibu merupakan pengalaman pertama bagi anak usia dini dalam mengikuti kompetisi. Kegiatan ini mampu menumbuhkan keberanian anak.
”Kegiatan ini khusus untuk anak-anak yang baru pertama kali sekolah, dan pertama kali juga mengikuti lomba. Jadi bisa membuat anak berani dan percaya diri,” kata Fathatur Rahmania, ketua Himpaudi Jogoroto, kemarin.
Keberadaan ibu dalam mendampingi anak berlomba dapat menambah kepercayaan diri pada anak. Mereka bisa belajar berkompetisi sekaligus mengasah kekompakan bersama ibu.
”Mengarsir dapat mengasah kemampuan motorik halus. Bersama ibu, anak akan menjalin kebersamaan,’’ ucapnya. Dia berharap, kegiatan ini rutin diadakan setiap tahun agar memberikan kesan tersendiri pada anak dalam mengisi kegiatan di luar kelas.
Nia, sapaan akrabnya, merupakan kepala KB Islamiyah Desa Sawiji Kecamatan Jogoroto. Ia sudah mengajar di PAUD selama sembilan tahun. Menurutnya, guru PAUD harus telaten, punya sifat mengasuh, melindungi dan mengayomi anak. Juga sabar, tidak gampang kesal.
”Guru PAUD tidak jijikan, dan tidak takut kotor. Karena namanya anak-anak usia segitu, semua tingkah polah mereka tidak bisa diterka. Harus punya tenaga dan kesabaran yang extra,” ungkapnya.
Profesi guru PAUD membuatnya banyak belajar mengenai berbagai macam karakter anak. Menangani anak ketika rewel, perasaan buruk dan menangis. ”Bagaimanapun, karena sudah menjadi profesi kita, jadi harus ditekuni dan ditelateni. Karena banyak sekali pembelajaran dan pengalaman yang kita dapat dari sini,’’ urainya. Semuanya bisa diterapkan dikehidupan sehari-hari pada anak-anak.
Ibu dua anak ini mengaku beda ketika menghadapi siswanya dengan anak sendiri. Cara mendidik di sekolah tidak semuanya bisa dilakukan di rumah. Apalagi anak bungsunya sudah duduk di madrasah. Sehingga cara mendidik beda dengan anak PAUD.
Apalagi tiap anak memiliki karakter yang berbeda. Namun ia selalu mencoba memahami. Sebagai bentuk perhatian, ia mendampingi anak dalam proses belajar. Sembari mengenal lebih dekat kepribadian anak.
”Saya biasanya quality time dengan anak setelah Maghrib. Di situ mereka mengaji dan belajar,’’ bebernya. Itu menjadikan suasana rumah menjadi lebih membahagiakan.
Editor : Rojiful Mamduh