JOMBANG – Kegiatan penebangan pohon di kawasan areal makam Dusun Klampisan, Desa Tejo, Kecamatan Mojoagung dikeluhkan warga sekitar. Menyusul dampaknya merusak sebagian bangunan makam.
Pantauan di lokasi, hingga Sabtu (15/1) kondisi sejumlah bangunan makam masih porak-poranda. "Karena kerusakan makam itu warga jadi marah," terang salah satu warga yang meminta namanya disembunyikan.
Dia menerangkan, penebangan pohon dilakukan Rabu (12/1) lalu. Ada dua pohon mangga yang ditebang. Dalam prosesnya, ada puluhan makam rusak. ”Kami kecewa puluhan makam leluhur kami rusak akibat penebangan pohon. Terlebih ketika proses pengangkutan, truk langsung dibawa masuk langsung ke area makam,” paparnya.
Menindaklanjuti protes warga, Jumat (14/1) siang, perwakilan warga dikumpulkan kepala desa untuk melakukan musyawarah perbaikan makam. Dari situ diketahui, jika penebangan pohon diduga atas perintah Kasun Klampisan serta ketua rukun warga (RW) setempat.
Sementara uang hasil penjualan pohon nantinya akan digunakan untuk membangun pagar makam. ”Oleh perangkat desa serta ketua RW, uang hasil penjualan pohon bakal digunakan untuk membangun pagar makam. Ini yang menurut kami sangat janggal, karena justru menimbulkan kerusakan,” imbuhnya.
Padahal, lanjutnya, area makam yang berada di sebelah selatan sudah disewakan kepada pihak ketiga. Dan dari hasil penjualan selama empat tahun, tidak kurang dari Rp 3 juta uang telah terkumpul. ”Tanah makam yang berada di sebelah selatan memiliki luas kurang lebih 1 hektare. Lahan tersebut sudah disewakan, dengan harga per tahunnya sebesar 8 juta rupiah,” terangnya.
Dengan jumlah hasil penjualan tadi, seharusnya proses pembuatan pagar makam sudah bisa tercover. ”Apabila di kalkulasi, uang sewa lahan makam sudah cukup untuk membuat pagar makam. Maka apabila ada dalih uang penjualan pohon di area makam untuk tambahan, tidak lebih dari sikap arogansi,” tandasnya.
Warga yang kecewa mendesak kasun mengundurkan diri dari jabatannya. "Ya warga meminta kasun untuk mengundurkan diri dari jabatannya," bebernya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Tejo Ponedi membenarkan adanya permintaan warga untuk menurunkan jabatan Kepala Dusun Klampisan. "Ya memang benar, akan tetapi kepala dusun tidak melakukan perusakan pada makam," katanya saat ditemui, kemarin.
Diungkapkannya, sebelum hari raya tahun kemarin, sudah ada musyawarah untuk melakukan penebangan pohon di area makam. Akan tapi di bagian luar saja. "Akan tetapi sekian lama setelah dilakukan penebangan pohon bagian luar, Rabu (12/1) kemarin dilakukan penebangan pohon bagian dalam," katanya.
Diakuinya, sebelum melakukan penebangan, juru kunci makan melakukan koordinasi dengan dirinya. Hanya saja, dirinya tidak berani memutuskan karena pohon itu milik masyarakat. Jadi dirinya menyarankan untuk koordinasi dengan kepala dusun. "Saran saya juga melakukan musyawarah dusun (musdus) terlebih dahulu, sebelum melakukan penebangan. Karena itu milik masyarakat," ungkapnya.
Hanya saja, dalam pelaksanaan tidak dilakukan musdus. Selain itu, pada saat penebangan merusak beberapa makam, sehingga hal ini mematik emosi warga sekitar. "Sebenarnya Jumat (14/1) warga saya undang untuk menyelesaikan bagaimana melakukan perbaikan makam, akan tetapi warga meminta untuk menurunkan jabatan kasun," katanya.
Padahal, kemarin rencananya makam akan dilakukan perbaikan. Akan tetapi kembali dihadang warga. Boleh melalukan perbaikan asal kepala dusun sudah tidak menjabat lagi. "Dengan legowo tadi kepala dusun akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya secara lisan," bebernya.
Sedangkan untuk proses secara administrasi, diakuinya memang masih belum. Pihaknya akan melakukan koordinasi dengan kecamatan terlebih dahulu. "Senin (17/1) besok (hari ini, Red) saya akan melakukan koordinasi dengan kecamatan," bebernya.
Saat ditanya hasil penjualan pohon digunakan untuk apa, Ponedi mengatakan, uang dari penjualan dua pohon tersebut sebesar Rp 7 juta yang rencananya akan digunakan untuk pagar makam. "Jadi uangnya nanti akan digunakan untuk makam lagi," pungkas Ponedi.
Editor : Rojiful Mamduh