Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Renungan Minggu 72: Tuhan Memberikan Harapan Baru

Rojiful Mamduh • Minggu, 9 Januari 2022 | 16:25 WIB
Renungan Minggu 72: Tuhan Memberikan Harapan Baru
Renungan Minggu 72: Tuhan Memberikan Harapan Baru


PENDETA GPdI House of Prayer Sawahan Jombang Petrus Harianto STh, menyampaikan renungan menarik, kemarin. Terutama tentang pentingnya memiliki harapan baru kepada Tuhan. ’’Orang yang paling menderita adalah mereka yang tidak punya pengharapan,’’ ujarnya.



Ketika mengalami terpaan badai permasalahan atau kegagalan, kebanyakan orang cenderung berputus asa dan menyerah kalah pada keadaan. Mereka berpikir masalah atau kegagalan sebagai akhir dari segalanya. Kita lupa bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pembuat Mujizat. Yang sanggup mengubah kegagalan menjadi keberhasilan, kehancuran menjadi pengharapan. Mengubah yang buruk menjadi baik, mengubah ratapan menjadi tari-tarian.



Dalam Kitab Yesaya 61:3, tertulis: "...Untuk mengaruniakan kepada mereka perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian puji-pujian ganti semangat yang pudar."



Ayat di atas menyatakan, Tuhan mengaruniakan perhiasan kepala ganti abu, minyak untuk pesta ganti kain kabung, nyanyian pujian ganti semangat yang pudar. Apa yang bagi manusia kegagalan, hancur lebur, menyedihkan, mendatangkan duka, atau mungkin dianggap seperti nasi yang sudah menjadi bubur, bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin.



Dia sanggup memberikan harapan baru. Hal ini seharusnya mendorong kita tetap bersemangat dalam menjalani hidup. Tak perlu menyerah kalah pada masalah. Seperti yang kita hadapi beberapa tahun ini.



Jangan sampai kita menyerah karena pandemi, semua pasti akan kita lewati. Perjuangan dan kerjasama dengan disiplin mentaati protokol kesehatan, menjaga kesehatan serta doa kita kepada Tuhan tidak akan sia-sia.



Layaknya seorang penjunan:  "Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakan kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya."  (Yeremia 18:4).



Tuhan membenahi dan membereskan semua permasalahan anak-anak-Nya. Namun Tuhan menginginkan kerja sama kita.  Bagian kita adalah tunduk sepenuhnya pada proses Tuhan!  Kalau kita menyerah, itu artinya kita membatasi kerja Tuhan dan menolak campur tangan-Nya. Kita kerjakan bagian kita seperti yang Tuhan inginkan, Tuhan akan mengerjakan bagianNya.



Ayub, orang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi segala kejahatan, tapi diijinkan Tuhan mengalami masalah, bahkan masalah yang sungguh teramat berat. Beratnya masalah yang dialami Ayub sepertinya menjadi akhir dari segalanya, mustahil dipulihkan. Bayangkan bila Ayub langsung menyerah pada keadaan, ia takkan pernah melihat perkara-perkara besar dinyatakan. Ayub belajar tunduk pada proses:  "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."  (Ayub 23:10), sampai akhirnya Tuhan memulihkan dan memberkatinya dua kali lipat.


Jangan pernah menyerah dan meragukan kuasa Tuhan!  ’’Tuhan memberikan harapan yang baru. Sebab bagi Dia tak ada yang tak mungkin. Tuhan Yesus memberkati,’’ pungkasnya.


Editor : Rojiful Mamduh
#berita jombang