Jumat, 19 Apr 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Mentoro Kampung Martabak; Bisnis Turun Temurun, Tak Ada Bumbu Khusus

25 Maret 2019, 09: 43: 46 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Salah satu pedagang martabak asal Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito.

Salah satu pedagang martabak asal Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito. (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

 JOMBANG - Di Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, banyak warganya menekuni usaha kuliner, martabak. Tak heran, Desa Mentoro disebut ‘Kampung Martabak’.

Alfendi salah satu di antaranya. Lelaki kelahiran 1962 ini mengakui penjual martabak di Jombang mayoritas berasal dari Desa Mentoro. “Sampai-sampai dikenal punjere martabak Jombang,” kata Alfendi. 

Dia sampai tak hafal sejak tahun berapa warga setempat mulai berjualan martabak. Yang dia ingat sejak 1977 dia sudah mulai menekuni usaha itu sendiri. “Jadi dulu itu ikut orang di Surabaya. Kemudian buka sendiri 1977, waktu itu martabak harganya masih Rp 150,” imbuh dia bercerita. 

Martabak matang yang siap disajikan.

Martabak matang yang siap disajikan. (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

Singkat cerita, dari tahun ke tahun kuliner yang berbahan dasar tepung terigu ini kemudian berkembang pesat. Alfendi bisa dikatakan merupakan dedengkot martabak di desa setempat. 

“Rata-rata sekarang yang jualan sendiri itu dulu ikut saya. Jadi setelah bisa, mereka kemudian buat sendiri,” papar dia. Martabak yang dijual pun seluruhnya sama. yakni martabak telur dan martabak manis atau lebih akrab dengan sebutan terang bulan. Meski sama, mereka punya pangsa pasar sendiri. 

Alfendi misalnya, meski saat ini sudah tak lagi berjualan, namun usahanya sudah sampai ke Surabaya. “Keponakan saya yang jual, saya tinggal menyiapkan keperluan bahan-bahannya,” tutur dia. 

Asfandi penjual lainnya juga mengakui puluhan warga Desa Mentoro merupakan penjual martabak. Tak peduli usia, baik anak muda hingga orang tua sampai sekarang masih tetap menjajakan panganan itu. “Kalau sore sekitar pukul 16.00 waktu mau berangkat itu kelihatan. Banyak sekali, kalau dihitung yang sehari-hari pulang itu ada 50 orang lebih,” sambung Asfendi.

Dia sendiri sudah berjualan sejak 1979. “Awalnya sama dengan yang lain ikut orang, di Tambaksari kemudian buka sendiri,” sebut lelaki usia 60 tahun ini. 

Dari banyaknya penjual martabak menurut dia, tak ada perbedaan atau martabak dengan ciri khas tertentu. Baik bumbu hingga adonan hampir sama semua. “Yang menjadi beda itu ada di rasa. Itu terjadi biasanya saat penyajian atau waktu masak. Istilahnya takaran dan ukuran yang pengaruh ke rasa, kalau yang lain saya kira tidak ada. Bumbunya sama semua,” pungkas Asfendi.

Kalangan anak muda di Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito juga banyak yang tertarik berjualan martabak. Usman Efendi misalnya, pria usia 24 tahun ini mengaku sudah berjualan satu tahunan. “Awalnya ikut mas saya di Krian juga dari sini (Mentoro). Kemudian bisa buat sendiri, sekarang buka di Jombang,” kata Efendi. 

Menurut dia, warga yang sesuia dia berjualan di Jombang kota misalnya ada sekitar 15 orang. Lokasinya menyebar di beberapa tempat. Ada yang dekat pusat perbelanjaan hingga pinggiran jalan. “Minimal ada 20-30 orang yang masih muda jualan martabak. Jualnya ya mencar-mencar ada yang di Jombang, Mojokerto ada yang sampai Kalimantan,” imbuh dia. 

Meski banyak untuk menentukan lokasi kata dia, tak ada batasan dimana mereka berjualan. “Nggak ada, semua cari sendiri. Jalan-jalan cari lokasi kalau cocok jual di situ. Kebanyakan begitu, jadi tidak dibatasi siapa yang harus jualan di sini,” papar dia. 

Resep masing-masing penjual menurut dia, juga hampir sama. “Khasnya mungkin ada di bumbu keringnya itu. Soalnya lebih banyak rempah-rempahnya ada 15 macam, seperti jinten, cengkeh dan lainnya,” sebut Efendi. Dia sendiri berjualan di area Jombang kota. Biasanya berangkat sekitar pukul 16.00. 

Karena dikenal Kampung Martabak, tahun lalu warga  menggelar  Festival Martabak Desa Mentoro. Pesertanya mereka yang berjualan martabak di Jombang. “Baru tahun kemarin dimulai buat acara. Soalnya Mentoro katanya punjere martabak. Jadi pemudanya bikin acara festival martabak. Rencananya mau buat rutinan setiap Agustus,” pungkas Efendi. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia