Jumat, 19 Apr 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Dojo Mahameru, Dojo Pribadi Pertama di Indonesia Milik Kwat Prayitno

12 Maret 2019, 19: 33: 37 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Dojo Mahameru yang dibuat Kwat Prayitno dan diresmikan Irjen Pol (Purn) Hamami Nata pada 2002 yang pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto.

Dojo Mahameru yang dibuat Kwat Prayitno dan diresmikan Irjen Pol (Purn) Hamami Nata pada 2002 yang pernah menjadi ajudan Presiden Soeharto. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Kecintaan Kwat Prayitno pada karate juga diwujudkan dengan terus membina junior-junior yang jauh di bawahnya. Bahkan ia merelakan sepetak tanah pribadinya digunakan sebagai dojo atau tempat berlatih  karateka setiap harinya. 

Dojo yang diberi nama Dojo Mahameru itu diresmikan mantan ajudan Presiden Soeharto, Irjen Pol (Purn) Hamami Nata pada 2002. Bahkan Dojo Mahameru disebut-sebut sebagai dojo tertutup dan milik pribadi pertama di Indonesia.

“Sebenarnya saya punya dojo itu sudah lama, tapi hanya seperti pelataran dan tanpa atapnya, tempat itu sering dipakai latihan sama teman-teman atlet karate,” kata alumni SMPK Wijana Jombang 1974.

Suasana Dojo Mahameru ketika dipakai latihan para karateka.

Suasana Dojo Mahameru ketika dipakai latihan para karateka. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

Dojo Mahameru diresmikan Irjen Pol Hamami Nata yang saat itu menjabat sebagai ketua PB Inkanas dan kebetulan sedang ada kegiatan di Jombang, sekaligus meresmikan dojo milik Kwat.

Singkat cerita, pada 2001 lalu toko emas miliknya kebakaran. Tidak ingin menyia-nyiakan sisa bangunan, kemudian dirinya mengolah kembali besi-besi sisa kebakaran kemudian dibuatlah atap dojo yang dulunya adalah tempat parkir kendaraannya. 

Ditambah dengan dana pribadinya, akhirnya cita-cita memiliki dojo yang tertutup terwujud. Sampai sekarang dojo masih dimanfaatkan karateka muda seperti Jombang Karate Club atau (JKC) yang setiap hari memanfaatkan dojo tersebut untuk berlatih. 

“Sebetulnya banyak juga dojo di Jombang, dojo tidak harus seperti tempat saya yang tertutup dan kesannya seperti gedung jadi, dojo itu tempat latihan, dimanapun tempatnya itu disebut dojo, entah itu di teras rumah maupun di balai desa biasanya, tapi tetap namanya dojo, jadi dojo saya sama yang lain sama saja,” jelas alumnus STIE Satya Widya Surabaya 1988 ini.

Ia mengaku membuat dojo memang cita-citanya, tapi hal tersebut wajar, menurutnya seluruh pegiat olahraga pasti menginginkan tempat berlatih untuk atlet-atlet lainnya. Namun meski sudah memiliki dojo cukup besar dan bagus, Kwat masih memiliki cita-cita membangun tempat tinggal sekaligus tempat berlatih para karateka yang hiasa disebut dengan istilah honbu.

Cita-citanya tersebut terinspirasi dari ungkapan Widjono Soejono yang menginginkan Jombang memiliki tempat yang layak untuk berlatih sekaligus dengan tempat tinggal karateka. Namun ia belum bisa memperkirakan kapan bisa mewujudkannya. “Ya semoga saja segera terwujud kalau sudah ada rezeki, agar teman-teman lebih total berlatih serta ikatan persaudaraannya semakin kuat,” tambahnya.

Menjadi dojo tertutup pertama dan milik pribadi pertama di Indonesia, dojo Kwat juga menjadi inspirasi bagi teman-temannya yang lain. 

Manfaat dojo milik Kwat ini betul-betul membuat karateka generasi berikutnya turut berbangga dengan Jombang. Salah satu atlet binaannya adalah Ade Rengga yang sangat mengapresiasi semangat suhunya ini karena sudah membuatkan tempat berlatih yang layak.

“Manfaatnya sangat besar sekali, beruntung sekali memiliki guru seperti beliau yang mau memberikan separuh hartanya untuk membuat dojo, sehingga kita atlet juniornya yang merasakan manfaat,” kata Ade Rengga kemarin.

Pantas saja, pelatih JKC ini mengakui jika karateka-karateka berprestasi tak lepas begitu saja dengan binaan serta tempat berlatih yang juga turut menunjang prestasi. “Kalau cabor-vabor lain pasti juga membutuhkan tempat untuk berlatih, tapi alhamdulillah kita sudah memiliki tempat yang layak untuk berlatih,” tambahnya. (*)

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia