Jumat, 19 Apr 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

KH Muhammad Ishomuddin Hadzik, Titisan Ulama Cerdas Sejak Kecil

11 Maret 2019, 14: 53: 44 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Muhammad Ishomuddin Hadzik (kanan) semasa hidup.

KH Muhammad Ishomuddin Hadzik (kanan) semasa hidup. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Kabupaten Jombang memiliki banyak tokoh besar Islam. Mulai dari yang memiliki jasa besar di Jombang hingga tokoh besar yang menasional. Salah satunya adalah KH Muhammad Ishomuddin. Semasa hidup, Muhammad Ishomuddin lebih akrab disapa Gus Ishom. Ia dilahirkan di Jombang 17 Juli 1965 dari pasangan KH Hadzik Mahbub dan Hj Khodijah Hasyim. Ya, Gus Ishom merupakan cucu dari tokoh besar Islam di Nusantara KH Hasyim Asy'ari. 

Ia anak pertama dari tiga bersaudara. Adik pertamanya Fahmi Amrullah dan adiknya terakhir Agus Muhammad Zaki. Sebagai titisan ulama, semasa hidup Gus Ishom terkenal sebagai orang yang cerdas. Maka tak heran, ia digadang-gadang sebagai penerus pondok pesantren Tebuireng Jombang di kemudian hari.

Namun sayang, ia menutup mata di usia yang terbilang masih muda, 38 tahun, tepatnya 26 Juli 2003 lalu. “Gus Ishom itu cerdas tidak hanya di bidang keagamaan, tapi juga di bidang ilmu umum,” kata Gus Fahmi, adik pertama Gus Ishom. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 1 Cukir. Tidak puas hanya sekolah di satu lembaga, Gus Ishom juga sekolah MI sore hari sepulang dari SD. “Dulu masih boleh seperti itu, punya dua ijazah, sekarang sudah tidak boleh, istilahnya dulu nggaro,” lanjutnya.

Makam KH Muhammad Ishomuddin Hadzik di kompleks PP Tebuireng.

Makam KH Muhammad Ishomuddin Hadzik di kompleks PP Tebuireng. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

Ishom kecil tumbuh seperti anak-anak kecil pada umumnya, meski terlihat beda karena ia lebih rajin membaca. Di usianya yang masih belia, ia memiliki kegemaran membaca koran, dan buku-buku bacaan lain sehingga ia memiliki banyak ilmu pengetahuan yang tidak hanya didapatkan pada bangku sekolah saja. 

Setelah lulus SD dan MI, Gus Ishom melanjutkan sekolah di dua lembaga. Pagi hari di SMP dan sorenya di MTs. Kecerdasan yang dimilikinya semakin dewasa semakin tampak. Kegemarannya membaca sejak kecil pun tak pernah hilang. Bahkan setelah tamat bangku SMP/MTs, Gus Ishom memutuskan untuk meneruskan pendidikan formal dengan sekaligus menjadi santri di Ponpes Lirboyo.

“Ajaibnya, semasa sekolah di Lirboyo, Gus Ishom satu-satunya siswa yang lolos masuk dengan latar belakang pendidikan SMP, santri lain semua dari MTs,” ungkap Gus Fahmi. Sebagaimana santri lainnya, ia menjalani masa sekolahnya dengan lancar, pembentukan karakter dan keilmuannya berhasil sukses. Bahkan ia diminta Lirboyo mengajar lebih awal. 

Setelah lulus MA, Gus Ishom sudah harus mentransfer ilmu kepada murid-muridnya. Padahal menurut Fahmi seorang siswa yang mengabdi di Lirboyo minimal 6-9 tahun, baru bisa mengajar. Namun berkat kecerdasan Gus Ishom mampu mengajar dengan baik meski hanya nyantri selama tiga tahun saja. 

“Gus Ishom bisa mengajar sambil membaca, jadi beliau di dalam kelas tidak membawa kitab, tapi membawa majalah atau surat kabar, sambil membaca bersamaan juga dia mengajarkan kitab yang dibawa murid-muridnya,” tegasnya.

Selain cerdas, Gus Ishom merupakan orang yang supel. Ia mudah bergaul dengan siapa saja, tidak pernah memandang sisi lain temannya, sehingga ia menjalin hubungan baik dengan siapa saja. 

Saking supelnya, seringkali beberapa teman memperdaya Gus Ishom saat masih duduk di bangku sekolah. “Saya mendengar cerita ini dari salah satu gurunya,” kata Gus Fahmi lagi. 

Beberapa kali Gus Ishom hendak di 'jegal' teman-temannya. Menjelang ulangan harian maupun ujian sekolah, Gus Ishom diajak ngopi dan bermain agar tidak bisa belajar. Mendapat tawaran itu Gus Ishom yang memiliki sifat sombong, selalu menuruti ajakan teman-temannya.

Namun kecerdasan yang dimilikinya tidak hanya berhenti hanya karena tidak belajar menjelang ulangan harian. Tidak membutuhkan waktu lama, sepanjang perjalanan menuju sekolah ia memanfaatkan waktu dengan membuka catatannya. Dan hasilnya tetap sama seperti sebelumnya. 

“Cara Gus Ishom menghafal itu sangat cepat, kelebihannya disitu, mudah hafal dan gampang paham dengan pelajaran yang disampaikan guru-gurunya. Tidak hanya sekali atau dua kali teman-temannya memiliki niat seperti itu, tapi selalu gagal dengan hasil ulangan Gus Ishom yang ternyata masih bagus,” paparnya.

Sebagai cucu dari tokoh besar Islam yang dikaruniai kecerdasan luar biasa. Gus Ishom memiliki cita-cita yang mulia, yaitu meneruskan perjuangan kakeknya yang sekarang mulai dilupakan dengan cara mengumpulkan semua kitab hasil karangan KH Hasyim Asy'ari.

“Beliau sering berburu kitab kepada murid-murid mbah Hasyim yang masih ada, kitab-kitab tersebut kemudian diajarkan kembali kepada murid-muridnya,” tutur Gus Fahmi. Sedikitnya, sudah ada 9 kitab yang sudah berhasil dikumpulkan. Kitab-kitab tersebut kemudian dijilid menjadi satu kitab besar yang masih diajarkan kepada para santri hingga sekarang. 

Baginya, kitab karya tokoh besar zaman dahulu merupakan sejarah besar yang wajib dilestarikan. “Apalagi sekarang banyak umat Islam yang sudah melupakan ajaran-ajaran guru terdahulu karena urusan politik dan lain sebagainya,” lanjutnya. Kitab-kitab karya kakeknya yang berhasil terkumpul dijilid dengan sampul berwarna hijau lengkap dengan gambar KH Hasyim Asy'ari. 

Didalamnya ada 10 daftar isi kitab. Gus Ishom juga memiliki sebuah kitab yang diberi nama Miftakhul Falah yang berisi tentang hadits-hadits pernikahan. Kitab tersebut rutin diajarkan pada santri khusus setiap bulan Ramadan. 

“Sebetulnya bukan karangan beliau pribadi, hanya saja hadits tentang pernikahan yang beliau kumpulkan jadi satu,” tambahnya. Gus Ishom juga menambahkan kitab Miftakhul Falah ke dalam kitab karya KH Hasyim Asy'ari yang sudah dijilid. 

Kegemarannya menulis hanya berhasil dibukukan dalam satu kitab tersebut. Tapi jumlah karangan berupa artikel cerpen dan lain sebagainya tidak bisa dihitung dengan jari. Gus Ishom sering kali menulis dan diorbitkan di beberapa media cetak ternama. 

“Sering beliau menulis di kolom Jawa Pos,” tambahnya. Menurut Gus Fahmi, kakanya memang tidak begitu suka menulis dalam bentuk buku. Ia justru gemar menulis hanya karangan-karangan pendek yang berisi tentang opininya. (*)

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia