Jumat, 19 Apr 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Zefnath Ragainaga, Satu-Satunya Perintis Kemerdekaan di Jombang

11 Maret 2019, 14: 49: 27 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Zefnath Ragainaga, Satu-Satunya Perintis Kemerdekaan di Jombang.

Zefnath Ragainaga, Satu-Satunya Perintis Kemerdekaan di Jombang. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Namanya Zefnath Ragainaga. Pria kelahiran asli Serui Papua 9 September 1939 ini adalah salah satu pejuang yang merasakan langsung bagaimana rasanya berperang melawan penjajah Belanda, di tanahnya sendiri yang saat itu dikenalnya sebagai New Guenia/Papua Nugini alias Irian Barat.

Ia juga merupakan saksi mata peperangan sengit di laut Arafuru saat Indonesia yang kala itu hendak menyerbu Sorong untuk membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda. Bahkan, dirinya adalah satu dari puluhan awak KRI Macan Tutul yang harus tenggelam, karena perang tersebut dihantam bom dari kapal Belanda yang turut menenggelamkan Kapten kapal Yos Sudarso.

Berawal dari tentara sukarelawan di SUAD Satu Jakarta, ia kemudian terus ikut berjuang dalam beberapa kali perang fisik di Papua hingga akhirnya kembali ke pangkuan ibu pertiwi di tahun 1962, lewat operasi Tiga Komando Rakyat atau Trikora. 

Deretan piagam penghargaan yang diterima Zefnath Ragainaga.

Deretan piagam penghargaan yang diterima Zefnath Ragainaga. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Setelah sebelumnya melakukan pendidikan di Magetan dan lulus sebagai Pratu. Dirinya tercatat pernah berdinas untuk Korem 172 Jayapura sepanjang tahun 1987 hingga dirinya pensiun di tahun 1990, dengan pangkat terakhir Lettu.

Penghargaan yang diterimanya pun cukup mentereng. Diantaranya penghargaan Saylantjana Satya Dharma yang diberikan langsung Jendral A.H. Nasution 1962, tanda kehormatan Bintang Jalasena Nararya 1973 dari Presiden Soeharto, tanda kehormatan Satyalancana Perintis Kemerdekaan Indonesia 2003 dari Presiden Megawati, piagam tanda kehormatan Veteran Pembela Kemerdekaan Indonesia (Trikora) tahun 2015 hingga tali asih dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo tahun 2016 sebagai satu-satunya perintis kemerdekaan yang masih hidup di Jawa Timur. (Dikutip dari jawapos.com)

Di usia senjanya kini, dirinya tinggal di Dusun Nglaban, Desa Bendet, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang bersama dua cucu, juga satu anak serta istrinya yang dinikahinya sejak tahun 1963. “Anaknya empat, tiga laki-laki dan satu perempuan satunya sudah meninggal dunia, satu infanteri Letkol Yusuf Ragainaga itu bertugas di Kodam IV Brawijaya Surabaya,” jelas Mince Johana, istrinya.

Ditemui di kediamannya, Zefnath bercerita banyak hal tentang perjalanan hidupnya. Mulai dari pelariannya ke berbagai negara sebagai tawanan perang sebelum akhirnya dirinya diangkat menjadi salah satu anggota TNI. 

“Saya ini sebenarnya dulu adalah pelarian dari tanah kelahiran saya di Serui,” ucapnya lirih kepada Jawa Pos Radar Jombang. Cerita ini dimulai ketika tahun 1958, Zefnath yang kala itu ingin ikut merdeka dari cengkeraman penjajah Belanda seperti saudara sebangsanya, mencoba untuk keluar dari Papua. Dengan menumpang kapal milik Jepang tujuan Banjarmasin yang kala itu telah merdeka dari Belanda. 

Namun dirinya tertipu, kapal tersebut ternyata malah menuju Jepang dan tidak mendarat di Banjarmasin. “Awalnya dari Serui saya ke Ambiwaren kemudian ke Sorong dan naik kapal Niseimaru. Kapal tersebut katanya tujuan Banjarmasin, tapi saya malah dibawa ke Hiroshima Jepang dan tak bisa kembali ke Indonesia karena saya tetap warga dari wilayah Hindia Belanda di New Guenia,”ceritanya.

Dua bulan dirinya berkeliling di Jepang sebagai tahanan, berbagai kota pun ia singgahi. Sebut saja Hiroshima, Kobe, Osaka hingga berakhir di Nagasaki. Setelah dua bulan menginap di penjara Jepang di Nagasaki, dia kemudian dikembalikan ke tanah asal Papua. “Saya dikembalikan lagi ke Biak, dengan pesawat milik Belanda dan menerima hukuman penjara,” lanjutnya.

Bahkan tekanan kian berat saat kembali ke tanah kelahirannya sendiri. Dia seringkali dinggap sebagai pembelot oleh petugas di Papua karena berusaha lepas dari Belanda. “Seringkali saya dibilang anjing Soekarno, tapi saya tidak peduli karena saya memang ingin merdeka dan bergabung manjadi warga Indonesia,” imbuhnya.

Pelariannya pun terus berlanjut. Meski menerima hukuman, dirinya masih saja terus bisa melarikan diri selama beberapa tahun dengan cara bekerja menjadi kuli, hingga membantu di toko kota-kota di Papua. 

Hingga tahun 1961, keteguhannya untuk ingin bergabung menjadi Bangsa Indonesia terus bergelora. Bersama enam orang temannya, dia memberanikan diri untuk mendayung sampan dari Sorong Papua menuju perairan Indonesia di wilayah laut Halmahera Maluku Utara. “Saya dan enam orang teman waktu itu mendayung dari sorong sampai ke Pulau Gebe, baru disana ditampung sama polisi dari Indonesia hingga dipindah ke Ternate, Ambon hingga diinterview sama tentara di Makasar,” lontarnya.

Mengetahui dirinya adalah pelarian yang ingin berjuang untuk Indonesia, tentara langsung mengirimnya ke SUAD (Staff Umum Angkatan Darat) Satu di Jakarta untuk kemudian menerima latihan. “Saya berlatih di berbagai tempat waktu itu, mulai di Ciawi, Cisolok hingga akhirnya di Pelabuhan Ratu. Sekitar 3 bulan saya berlatih di sana,” ucapnya.

Hingga pada suatu malam, dirinya yang saat itu baru selesai melakukan latian rutin di Pelabuhan Ratu, diperintahkan komandannya untuk mengikuti latihan lanjutan di Bandung. “Komandan Rujito waktu itu yang bilang, kamu siap-siap dikirim ke Bandung dan saya ikut saja,” ucapnya.

Namun, hari itu ternyata adalah hari dimana dirinya benar-benar merasakan sengitnya peperangan. Pemindahan yang awalnya dikatakan menuju Bandung, adalah alasan saja. Ternyata, Zefnath adalah tentara sukarelawan yang harus ikut di medan pertempuran Trikora di Laut Aru. “Ternyata saya diterbangkan ke Bandara Letfuan Kei Ambon. Setelah itu naik perahu karet ke kapal Multatuli sebelum dibagi ke tiga kapal perang milik Indonesia untuk menyerbu Sorong,” lanjutnya.

Dirinya yang saat itu sempat salah masuk kapal, membuatnya berada di KRI Macan Tutul bersama Yos Sudarso. Zefnath masih sangat ingat, bagaimana malam itu suasana begitu mencekam. Pergerakan kapal Indonesia ternyata sudah kedahuluan terbaca oleh militer Belanda yang kemudian langsung menyergap di laut Aru. “Sebenarnya tanda-tanda sudah ada sejak awal, bendera yang harusnya dikerek ke atas ternyata jatuh karena kerekan putus. Dan bagi kami orang timur, ini dipercaya sebagai pertanda tidak baik,” kisahnya sembari meneteskan air mata.

Pertempuran tak seimbang ini dimenangkan Belanda, dan operasi ini memang dicap sebagai salah satu operasi gagal. Hal ini menurutnya karena kapal Indonesia tidak dipersenjatai cukup sehingga saat berhadapan dengan kapal Belanda, Indonesia kekurangan senjata. Yos Sudarso tenggelam bersama KRI Macan Tutul malam itu karena tak mau meloncat ke air seperti banyak awak kapalnya. “Waktu itu kita ada meriam, tapi amunisi tidak dibawa karena kita mau menyelinap masuk, tapi karena sudah terbaca dan perang terjadi dan kita tidak siap,” lanjutnya.

Setelah berhasil selamat dengan meloncat, Zefnath kemudian menjadi tawanan Belanda hingga beberapa bulan kemudian berhasil kembali dibebaskan, setelah tukar tawanan dilakukan di Singapura. “Setelah diserahkan kami kembali ditempatkan di Ciawi untuk berlatih kembali untuk operasi kedua beberapa bulan setelahnya,” lanjutnya.

Dan benar saja, di operasi keduanya inilah dia baru berhasil menggulingkan Belanda yang kala itu menyerah setelah ada perjanjian di kantor BB New York. Dirinya pun kembali ditarik ke Indoneia untuk kemudian menjadi anggota tentara Indonesia dengan pangkat Pratu. “Setelah itu masih ada pelatihan lebih lanjut di Magetan dan seterusnya saya berdinas di TNI Angkatan Darat,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia