Jumat, 19 Apr 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Kreativitas Nusa Amin Menggeluti Produksi Batik dengan Pewarna Alam

07 Maret 2019, 19: 03: 54 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Nusa Amin, warga Dusun Sanan Selatan, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung. Salah satu perajin yang menekuni kerajinan batik pewarna alam.

Nusa Amin, warga Dusun Sanan Selatan, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung. Salah satu perajin yang menekuni kerajinan batik pewarna alam. (M.Nasikhuddin/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Bahan-bahan alam, misal serat daun, kulit pepohonan ternyata menyimpan bahan pewarnaan yang tinggi. Salah satunya, bahan untuk produksi batik warna alam.

Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung, terlihat tiga perempuan paruh baya tengah duduk melingkar, sambil tangannya sibuk memegangi kain dan kuas. Di tengah-tengah mereka, ada bejana berukuran sedang berisikan cairan yang dipanaskan di atas tungku mini.

Secara bergantian, tangan ketiganya mencelupkan kuas ke dalam cairan di bejana dan menempelkannya ke permukaan kain sesuai motif yang diinginkan. Nampak pula di sudut lain, seorang pria tengah sibuk menjemur potongan-potongan kain basah di belakang rumah.

Mengetahui orang asing datang, bapak tiga anak ini segera melempar senyum sambil tangannya menyambut jabat tangan. Itulah sekelumit, gambaran suasana rumah Nusa Amin, warga Dusun Sanan Selatan, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung. Salah satu perajin yang mulai berdikari berkat keuletan dirinya menekuni kerajinan batik pewarna alam.

Suami Suniah ini dengan senang hati berbagi pengalaman menggeluti usaha kerajinan produksi batik pewarna alam. Tepatnya, sekitar 2005 lalu, Nusa Amin kembali menginjakkan kaki di Jombang dengan kondisi ekonomi keluarga yang carut marut. ”Punya tanggungan hutang cukup besar. Usaha batik saya di Bali bangkrut, sebab kena tipu orang, tapi bergerak di batik sintesis,” bebernya.

Dalam kondisi ekonomi keluarganya yang guncang, Amin, sapaan akrabnya berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertahan. ”Sampai kerja jadi kuli bangunan, sebab tidak punya pekerjaan tetap. Yang terpenting kebutuhan nafkah keluarga terpenuhi,” imbuhnya.

Ternyata dalam benaknya, Amin masih punya keinginan mengembangkan ketrampilan membatiknya di Jombang. Namun, dirinya kurang yakin dengan segmen pasarnya akan bisa berkembang.

Rupanya, di sela-sela bertahan menjadi kuli batu, Amin, masih terus memendam semangat menekuni kerajinan batik. Dirinya pun terus membaca peluang usaha tersebut. ”Nah, ingat saya Oktober 2009, batik mendapat pengakuan dari Unesco sebagai warisan bangsa Indonesia. Setelah itu, batik seolah menjadi primadona, banyak dicari orang,” bebernya.

Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Amin pun mulai mencari jalan untuk merintis kembali usaha kerajinan batik. ”Kebetulan, saya dapat tawaran mengerjakan pesanan batik tulis dari perajin di Mojokerto,” bebernya.

Karena sudah kenyang pengalaman membatik, Amin pun dengan mudah menyelesaikan pekerjaan. ”Itu saya jalani setahun lebih. Pulang pergi ke Mojokerto setor barang bawa sepeda pancal,” bebernya.

Seiring berjalannya waktu, dirinya pun mulai mengembangkan jaringan di Jombang. ”Terus saya kenal dengan perajin di Jombang, akhirnya ditawari ikut kerjakan pesanan. Saya kerjakan di rumah,” imbuhnya.

Singkatnya, 2012, dirinya mendapat tawaran mengikuti program pelatihan membatik difasilitasi dinas. Tanpa pikir panjang, dirinya pun berangkat. ”Pelatihannya di Jogjakarta, fokus batik warna alam,” bebernya.

Sepulang dari kegiatan pelatihan tersebut, selain mendapat wawasan baru di dunia membatik, Amin juga sedikit mendapat bantuan modal untuk mengembangkan usaha. ”Mulai saat itu, saya mulai merintis kerajinan batik warna alam,” bebernya.

Berbeda dengan batik sistetis, menurutnya batik warna alam memiliki daya tarik sendiri, salah satunya dari bahan pewarnanya  yang berasal dari bahan-bahan alami, bukan pewarna buatan (kimiawi). ”Jadi bahannya, misalnya dari kulit pohon mangga, mahoni, serabut kelapa, dedaunan dan bahan-bahan alam lainnya. Itu kemudian di ekstrak, diambil sarinya untuk bahan pewarna,” bebernya.

Karena menggunakan pendekatan tradisional, otomatis produksinya memerlukan proses relatif lebih lama. Misalkan, untuk membuat batik warna alam miliknya, prosesnya cukup panjang.

Mulai dari mencari bahan kain, setelah kain siap, selanjutnya lanjut Amin diketel. Dicelupkan dengan larutan air bekas bakaran merang. Terus berulang-ulang, celup kering-celup kering sampai tujuh kali. Proses ini memakan waktu cukup lama.

Setelahnya, kain-kain tersebut dicuci bersih baru setelahnya siap dipola. ”Biasanya menggunakan pensil, belum lagi proses canting,” bebernya.

Selanjutnya proses pewarnaan, ini juga membutuhkan waktu cukup panjang. ”Sama prosesnya, celup kering-celup kering sampai tujuh kali, itu kalau produk saya. Terus juga ada proses penguncian, menjaga warna agar tidak pudar. Jadi dicelupkan dalam ari tawar atau juga air batu tunjung,” imbuhnya.

Kebanyakan motif batik warna alam yang banyak dicari pelanggannya motif kuno, namun demikian, Amin juga mengembangkan sejumlah produknya dengan motif kontemporer. ”Motif kuno, misal parang, udan liris, sekar jagad. Selain indah, motif-motif ini juga menyimpan nilai filosofi yang tinggi, ada ceritanya. Misalnya, udan liris, biasanya dipakai perempuan yang sudah menikah, sekar jagad filosofinya junjung derajad dan masih banyak lagi,” bebernya.

Melihat proses pembuatannya yang njlimet, tak pelak produk batik warna alam memiliki nilai jual cukup tinggi. ”Harga per lembar, kisaran Rp 350 ribu hingga Rp 1,5 juta juga ada. Harga menyesuaikan teknik pembuatan dan kualitas bahan,” tegasnya. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia