Jumat, 19 Apr 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Emha Ainun Nadjib, Tokoh Nasional Multi Dimensi dari Kabupaten Jombang

07 Maret 2019, 06: 49: 51 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

1.	Muhammad Ainun Nadjib, budayaman asal Kabupaten Jombang.

1. Muhammad Ainun Nadjib, budayaman asal Kabupaten Jombang.

JOMBANG - Kepiawaiannya dalam banyak hal mulai dari sosial, budaya dan agama, membawanya sebagai tokoh yang tak saja mampu memberikan kedamaian ketika datang. Ia seringkali mengundang takjub karena kedalaman analisa berpikirnya.

Tokoh kelahiran asli Jombang ini adalah Muhammad Ainun Nadjib. Mungkin nama tersebut lebih dikenal dengan singkatannya “MH” ataupun “Emha” Ainun Nadjib. Bahkan banyak pula mungkin yang akrab dengan sapaan akrabnya, Cak Nun. Tokoh yang satu ini memang terkenal multi talenta dan serba bisa.

Dikutip dari buku Tokoh Jombang, Gus Mus saat ditanya tentang sosok Emha saat itu langsung menyebut “Dia itu adalah santri tanpa sarung, haji tanpa peci, kiai tanpa sorban, dai tanpa mimbar, mursyid tanpa tarekat, sarjana tanpa wisuda, guru tanpa sekolahan, aktivis tanpa LSM, pendemo tanpa spanduk, politisi tanpa partai, wakil rakyat tanpa dewan, pemberontak tanpa senjata, kesatria tanpa kuda, saudara tanpa hubungan darah,” tulis Joko Pitono dalam bukunya ketika menggambarkan ucapan Gus Mus.

2.	Foto Cak Nun semasa kecil.

2. Foto Cak Nun semasa kecil. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Lahir di Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang pada 27 Mei 1953. Cak Nun adalah putra ke empat dari 15 bersaudara. Ayahnya yakni Muhammad Abdul Latif adalah petani di desanya dan ibunya bernama Chalimah, seorang ibu rumah tangga biasa.

Meski demikian posisi keduanya memang cukup besar di masyarakat yang dengan hal itu pula membentuk karakter Cak Nun sebagai orang yang peduli akan kondisi sosial sejak kecil.

Hal ini diakuinya sendiri, seperti yang dikutip dari buku Jalan Sunyi Emha karya Ian L. Betts. Cak nun juga mengaku pola asuh kedua orang tuanyalah yang juga turut membentuk dirinya tentang kesadaran dan sikap sosialnya.

“Ayah saya adalah petani dan kiai yang mempunyai sebuah surau, tetapi dia adalah pemimpin masyarakat, tempat bertanya dan mengadu orang desa untuk berbagai masalah yang mereka hadapi, dan begitu pula ibu saya,” tulis Betts tentang pengakuan Cak Nun perihal kedua orang tuanya. 

Hingga kini Cak nun memang masih aktif terlibat aktif dalam berbagai forum diskusi yang diadakan rutin tiap bulan di beberapa kota. Seperti Padhang mBulan, Bang-Bang Wetan, Kenduri Cinta, Benowo Sekar dan lain-lain yang semuanya adalah kesatuan dari kegiatan-kegiatan masyarakat yang acap kali disebut sebagai Jamaah Masyarakat Maiyah.

Hingga kini, dari pernihakannya dia dikaruniai Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto) dari pernikahan pertamanya. Serta empat anak lain dari pernikahannya dengan Novia Kolopaking, yakni Annayya Al- Fatihah, Jembar Tahta Aunillah, Aqiela Fadia Haya, Anayallah Rampak Mayesa.

Sebagai seorang cendekiawan, Cak Nun memang telah dikenal sebagai orang yang berjiwa pemberontak namun berjiwa sosial tinggi semenjak kecil. Ia juga dikenal berjiwa besar dengan tak mau melihat orang lain sudah dan akan selalu menolong orang yang dirasanya lemah dan butuh pertolongan.

Nasrul Illah Budayawan Jombang yang juga adik kandung Cak Nun, bercerita banyak tentang kakak keempatnya ini. “Cak nun itu orang yang memang keras dan konsisten sejak kecil,” jelasnya.

Di masa sekolah, dirinya memang dikenal sebagai anak yang keras dan teguh pendirian sejak kecil. Sehingga seringkali melibatkan dirinya dalam masalah ketika sekolah lantaran keberaniannya itu. “Dulu waktu sekolah seringkali dia menghukum guru yang terlambat, karena dia tahu bahwa siswa yang terlambat juga dihukum, akhirnya ya dia memang terlibat masalah, namun itu dilakukannya benar-benar untuk menegakkan aturan yang dibuat guru sendiri,” ucapnya.

Cak nun tercatat pernah bersekolah di SD setempat meski hanya hingga kelas 5 saja. Setelah itu dirinya dipindah untuk melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Gontor. Di Gontor pun, Cak Nun hanya bertahan 3 tahun karena keberaniannya melakukan demonstrasi, lantaran aturan yang dianggap tidak ditegakkan. Hingga akhirnya dirinya kembali harus keluar pondok gara-gara masalah tersebut.

Pasca keluar dari Pesantren Gontor, Cak Nun melanjutkan studi di masing-masing SMP Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah Jogjakarta hingga tamat dan melanjutkan ke Fakultas Ekonomi UGM. “Di Universitas pun dia tidak menyelesaikan pendidikan formalnya dan memilih hidup menyufi, berguru kepada Umbu Landu Paranggi,” lanjut Cak Nas.

Contoh yang lain disebutkannya, dapat dilihat ketika ada beberapa pembantu di rumahnya yang seringkali mendapat perlakuan kurang cocok di hati Cak Nun. Meskipun telah berbuat salah, pembantu ini akan tetap dibela Cak Nun ketika mendapat perlakuan keras dari orang tuanya. “Meski tidak sampai adu arguman, Cak Nun itu biasanya akan langsung mengunci rumah dan kemudian kuncinya dibuang ke kali. Dia tidak akan tega dan pasti marah kalau melihat orang kecil direndahkan menurutnya,” kisahnya.

Dan terbukti kebiasaan itu berlanjut hingga kini. Kehadirannya di berbagai forum di masyarakat memang seringkali menjadi penengah hingga pendamai dengan tutur dan solusi yang diberikan. “Beliau memang konsisten, kegiatannya bertatap dengan masyarakat tentu itu bukti tetap memegang teguhnya pada pembelaan terhadap mereka yang butuh dan lemah,” pungkas Cak Nas.

Cak Nun sendiri menyebut kegiatan yang dilakukannya selama ini bukan merupakan dakwah. Lebih pada bentuk pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal. Tapi juga horizontal,” ujarnya yang dikutip pada Buku Tokoh Jombang. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia