Jumat, 19 Apr 2019
radarjombang
icon featured
Kota Santri

Masjid Al Ikhlas di Dusun Klubuk Jombang Berdiri di Kawasan ‘Lendir’

06 Februari 2019, 10: 45: 29 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Masjid Al Ikhlas di Dusun Klubuk, Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang

Masjid Al Ikhlas di Dusun Klubuk, Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang (Mardiansyah Triraharjo/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Keberadaan masjid dengan kondisi yang unik di Kabupaten Jombang terus ditemukan. Setelah sebelumnya masjid yang berdekatan dengan pura dan gereja, kali ini ada masjid yang berdiri di kawasan ‘lendir’ atau yang umum disebut lokalisasi.

Nama masjid tersebut adalah Al Ikhlas, berada di Dusun Klubuk, Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh. Salah satu tokoh penting berdirinya masjid Al Ikhlas adalah Suparto, 65, warga pendatang asal Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, yang sudah menetap di Dusun Klubuk sejak 1990.

Dalam sejarahnya, masjid Al Ikhlas berdiri tak lepas dari cerita munculnya permukiman yang kemudian eksis sebagai kawasan lokalisasi. “Masjid ini berdiri kurang lebih tahun 1994, atau satu tahun setelah ada kompleks belakang (lokalisasi),” ungkapnya.

Lahan masjid merupakan aset milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi VII Madiun. Kawasan ini memang sebelumnya adalah rel kereta, dengan rute Babat-Jombang.

Karena bangunan difungsikan sebagai tempat ibadah, kata Suparto, masjid ini dibebaskan PT KAI dari biaya sewa lahan. “Sebelum ada masjid, di atas tanah banyak semak-semak,” lanjutnya. Masjid saat itu menjadi kebutuhan penting warga Dusun Klubuk Timur, sebab untuk salat warga harus ke masjid yang jaraknya sekira satu kilometer dari permukiman.

“Kami minta izin Pak Sholikin (Camat Kabuh saat itu, Red), Alhamdulillah beliau mendukung rencana membuat masjid,” tambahnya. Dipilihnya lahan di pintu masuk menuju kawasan lokalisasi, menurutnya juga rekomendasi Camat Kabuh. “Lokasinya strategis,” ujarnya singkat. 

Ditambah sebelum eksis sebagai lokalisasi, lahan permukiman di sisi barat masjid adalah tanah kavling. “Alasannya tempat ini harus ada masjid, karena banyak rumah baru,” imbuhnya. Hingga akhirnya sejalan dengan waktu, permukiman baru tersebut berkembang dan eksis sebagai lokalisasi. 

Dari informasi yang ada, mereka yang mendirikan rumah di permukiman sisi barat masjid adalah pindahan dari wilayah utara Kabupaten Jombang. Mereka pindah ke Kecamatan Kabuh menyusul ditutupnya sejumlah lokalisasi di Kabupaten Lamongan, seperti lokalisasi Nguwok di Kecamatan Modo, yang pada 31 Desember 1993 resmi ditutup Pemkab Lamongan. 

Kemudian disusul dengan ditutupnya lokalisasi di wilayah Kecamatan Babat. “Masjid sempat mangkrak tidak ada pengurusnya sekira tahun 2010. Meskipun di bagian barat ada kompleks, tapi tidak pernah ada masalah,” pungkas Suparto. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia