Senin, 21 Jan 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Kasus Busa di Sungai Jatipelem, Pemilik Akui dari Pengolahan Plastik

10 Januari 2019, 18: 02: 28 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Pabrik pengolahan limbah plastik yang menyebabkan busa di aliran sungai Avur Pranggan

Pabrik pengolahan limbah plastik yang menyebabkan busa di aliran sungai Avur Pranggan (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Usai diancam diberi sanksi ditutup sementara, pemilik pabrik pengolahan limbah plastik yang menyebabkan busa di aliran Avur Pranggan angkat bicara.

Pujo Hartono, pemilik CV Pandu Kencana mengakui aktifitas pabriknya menyebabkan busa di sungai. Dia berjanji bakal menghentikan operasional pabrik sampai instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dilengkapi.

Ditemui di kantornya di Desa Godong Kecamatan Gudo, Pujo mengakui produksi plastiknya yang menyebabkan busa menggunung di saluran Sungai Pranggan, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek.

Menurutnya, produksi itu lantaran bahan baku plastik bekas sabun Wings. Plastik-plastik yang masih menyisakan  sabun itu memang sempat diolahnya. Saat hujan datang, material sisa sabun ikut terbawa ke saluran pembuang ke sungai.

“Saya ambil satu rit kemarin itu, jumlah totalnya empat ton dan baru kita produksi sekitar empat kuintal, belum sampai banyak. Tapi sudah berdampak itu ternyata,” terangnya kepada sejumlah awak media yang menemuinya.

Ia mengaku baru pertama kali  memproduksi biji plastik dari bungkus sabun bekas itu. “Ya, baru pertama ini,” lanjutnya. Pujo menyebut bakal mengembalikan sisa plastik berisi sisa sabun di dalamnya yang belum sempat diproduksi.

Dirinya mengaku juga dirugikan saat percobaan produksi di awal menggunakan plastik Wings. “Ya, kita kembalikan lagi ke perusahaan (Wings, Red), saya juga dirugikan,” imbuhnya.

Meski menimbulkan busa hebat dan  menghebohkan warga, pihaknya  mengelak ketika disebut telah lalai dan mengakibatkan tercemarnya air. Menurutnya, larutnya sabun ke dalam air sungai tak bisa disebut pencemaran.

“Kalau sabun saya kira kan bukan limbah, dan saya kira tidak berbahaya kok. Semua orang nyuci juga pakai sabun. Cuma busanya itu mungkin yang bikin heboh,” elaknya.

Meski mengelak tuduhan mencemari sungai, pihaknya mengaku bakal menuruti sanksi yang diberikan pihak DLH kepadanya yakni penghentian operasional sementara.

Mengingat dirinya juga mengakui jika IPAL di perusahaannya belum sepenuhnya memenuhi syarat termasuk izin pembuangan limbah cair (IPLC). “Ini untuk sementara, untuk perbaikan IPAL itu. Untuk sementara proses produksi plastik sabun itu kita hentikan dulu,” pungkasnya.

Sebelumnya, usai melakukan investigasi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH ) Jombang Yudhi Adrianto kepada Jawa Pos Radar Jombang menemukan jika busa yang menunmpuk tersebut adalah buah dari kelalaian industri plastik.

“Tadi sudah menerjunkan tim dari lab juga dan ditemukan ternyata busa ini dihasilkan salah satu pabrik pengolahan plastik berinisial CV PK, lokasinya di Desa Godong, Kecamatan Gudo,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang (8/1).

Terlebih diketahui meski telah beroperasi selama tujuh tahun, pabrik ini belum juga memiliki IPAL. “Ya, memang belum ada IPALnya, ini yang kemudian jadi lalainya dia sampai mengakibatkan pencemaran,” imbuhnya.

Atas kejadian ini, pihaknya telah melakukan serangkaian pemeriksaan dan peninjaun  dokumen yang dimilik perusahaan. Hasilnya, Yudhi menyebut Pemkab Jombang bakal memberikan sanksi berat langsung kepada CV PK.

“Sanksinya kita langsung meloncat dua,  kita langsung berikan dia sanksi paksaan untuk berhenti sampai dia punya IPAL,” sambung Yudhi. Selain itu pihak perusahaan juga dibebankan membersihkan jalur air dari material sabun yang telah mencemari sungai.

“Ya, selain kita berharap gelontoran air tidak berhenti dulu, pihak perusahaan juga harus membersihkan meterial sabun itu, dia harus bertanggung jawab,” lanjutnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia