Senin, 25 Mar 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Depresi, Warga Mojowarno Gantung Diri di Pohon Kopi Hutan Wonosalam

09 Januari 2019, 20: 21: 47 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Proses evakuasi terhadap jenazah korban gantung diri

Proses evakuasi terhadap jenazah korban gantung diri (Istimewa)

JOMBANG – Pariono, 23, nekat gantung diri di pohon kopi di Dusun Ngeseng, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Selasa (8/1). Kuat dugaan korban nekat bunuh diri lantaran permasalahan keluarga.

Awalnya Pariono yang pekerja serabutan ini sudah empat hari terakhir mendatangi rumah Suprat, 45, pamannya, di Dusun Ngeseng. Pariono sendiri sebenarnya adalah warga Dusun Kolondono, Desa Grobogan, Kecamatan Mojowarno.

“Dari keterangan saksi, korban ini sudah sejak tanggal 5 Januari lalu ke rumah saudaranya ini dan sebelum-sebelum itu memang juga sering datang dan menginap di rumah Pak Suprat ini,” terang Kapolsek Wonosalam AKP Luwi Nur Wibowo.

Hingga selasa kemarin, Suprat sore itu meminta tolong kepada Pariono untuk membantu memberi makan sapi peliharaannya. Sementara Suprat sendiri kala itu berangkat ke kebun untuk mencari tambahan pakan sapinya. “Saat itu pukul 16.00, awal korban dimintai tolong ini,” lanjutnya.

Satu jam berlalu hingga Suprat kembali ke kandang, ia tak menemukan keponakannya tersebut.  Merasa khawatir, pria 45 tahun ini kemudian berusaha mencari kenberadaan Pariono di sekitaran kebunnya.

“Nah saat melakukan pencarian itulah saksi menemukan korban sudah berada pada posisi gantung diri  di kebun,” sambung Luwi. Saat ditemukan, Pariono telah dalam posisi tergantung pada sebuah tali berwarna biru.

Menggantung pada batang pohon kopi setinggi tiga meter, saat bunuh diri Pariono terlihat hanya mengenakan kaos dalam berwarna putih dan celana berwarna hitam.

Polisi yang datang setelah mendapatkan laporan langsung menggelar identifikasi di lokasi. Hasilnya, polisi menyimpulkan jika pada tubuh korban tak ditemukan bekas penganiayaan dan dipastikan murni bunuh diri.

“Murni bunuh diri, tidak ditemukan tanda penganiayaan. Dan karena keluarga mengaku ikhlas, jenazah langsung dikembalikan kepada keluarga,” imbuh luwi. Dari pemeriksaan lanjutan, diketahui jika motif permasalahan keluarga yang diduga kuat melatarbelakangi korban bunuh diri.

Pariono, disebut Luwi sudah beberapa tahun terakhir hidup terkatung-katung bersama empat saudaranya yang kini menjadi tanggungannya, setelah  kedua orang tuanya bercerai.

“Dari keterangan keluarga, korban  sudah 10 tahun ini hidup serba keterbatasan setelah ibu dan ayahnya bercerai. Ini yang kemungkinan jadi pemicu korban   mengakhiri hidupnya,” pungkas Luwi. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia