Senin, 25 Mar 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Desa Gedangan Mojowarno; Jumlah Pengrajin Genting Terus Berkurang

09 Januari 2019, 20: 03: 21 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Selain laki-laki, usaha kerajinan genting di Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno, juga melibatkan para wanita sebagai pekerja.

Selain laki-laki, usaha kerajinan genting di Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno, juga melibatkan para wanita sebagai pekerja. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Meski masih menyisakan puluhan perajin, jumlah perajin genting di Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno, setiap tahun terus berkurang. Paling tidak selama empat hingga enam tahun terakhir ini.

Lilik, salah satu pengrajin menyebut kemunduran usaha ini memang benar-benar dirasakan sejak lima tahun yang lalu saat Gunung Kelud meletus hingga mengakibatkan hujan abu yang berdampak ke desa itu.

Hujan ini mengakibatkan banyak kerusakan pada genting produksi warga Gedangan hingga banyak warga yang merugi. “Paling parah memang setelah erupsi gunung kelud itu, banyak yang rugi dan gagal kirim. Akhirnya uangnya tidak bisa untuk usaha lagi dan berhenti produksi,” terangnya.

Kendala tak berhenti di situ, harga tanah bahan baku genting hingga sejumlah bahan lain yang makin mahal, hingga proses yang dinilai terlalu rumit dan memakan biaya juga akhirnya membuat sejumlah perajin kini mulai beralih.

“Di sini rata-rata sekarang jadi produksi batu bata merah. Karena pengadukan adonannya kan mudah, nggak perlu mesin, harga bahan bakunya juga lebih murah,” lanjutnya.

Karena itu, meski kini jumlah perajin genting masih lebih dari 50 orang di desa ini, jumlah ini disebutnya jauh lebih kecil dibandingkan 4 sampai 6 tahun lalu.

“Ya turunnya separuh lebih mas, dulu yang bata itu semua genting, belum yang berhenti seperti samping rumah ini. Tapi memang kayak saya ini ya masih bertahan, ditelateni saja meskipun berat,” singkatnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia