Senin, 25 Mar 2019
radarjombang
icon featured
Hukum

Jumlah Kasus Meningkat, Jombang Darurat Kekerasan Perempuan dan Anak

28 Desember 2018, 10: 07: 33 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Woman Crisis Center (WCC) Jombang membeberkan data kasus kekerasan perempuan dan anak selama 2018, kemarin.

Woman Crisis Center (WCC) Jombang membeberkan data kasus kekerasan perempuan dan anak selama 2018, kemarin. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG –Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Jombang selama 2018 ini ternyata sangat banyak, yaitu mencapai 80 kasus. Bahkan jumlahnya mengalami kenaikan dari tahun lalu yaitu 62 kasus. Data ini diungkap dalam diskusi bertajuk Refleksi dan Catatan Akhir Tahun Kekerasan Terhadap Perempuan Anak kemarin (27/12).

Elmia, Koordinator Divisi Pendampingan dan Pelayanan WCC Jombang menyebut, Kecamatan Jombang menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. “Tahun 2018 ini, yang kami tangani mencapai 80 kasus. Padahal tahun kemarin hanya 62 kasus. Ada kenaikan 18 kasus, baik kekerasan seksual maupun kekerasan dalam rumah tangga,” terangnya.

Dari 80 kasus itu, dirinya menjelaskan lebih dari separonya atau 52 kasus berupa kekerasan seksual baik yang berupa persetubuhan maupun pencabulan hingga kekerasan secara psikis. Sedangkan 28 kasus lainnya berupa KDRT. “Data juga menunjukkan kasus tahun ini trennya naik untuk bentuk kekerasan seksual, daripada KDRT,” lanjutnya.

Dari 21 kecamatan yang ada, lima kecamatan menjadi wilayah dominan kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Kecamatan Jombang mendapat posisi tertinggi yakni 21 kasus, disusul Mojowarno dan Mojoagung masing-masing sebanyak tujuh kasus. Plandaan dan Sumobito sebesar masing-masing enam kasus,” rincinya.

Dari analisanya, hal ini dipicu akses pelaporan yang cukup mudah dilakukan para korban kekerasan. Jarak tempat tinggal korban dengan lokasi pelaporan hingga tingkat pendidikan dan kesadaran untuk berani melaporkan, jadi poin penting banyaknya kasus di lima kecamatan ini.

“Sebenarnya kami yakin banyak kasus yang tak sampai dilaporkan, khususnya di wilayah-wilayah terpencil. Misalnya Wonosalam yang terhitung minim kasus juga Kabuh, Ngusikan. Akses yang jauh dan kesadaran mereka untuk mau terbuka menurut saya menjadi hal penting,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia