Senin, 21 Jan 2019
radarjombang
icon featured
Events

Menyusuri Tempat Wisata Negeri Jiran (3); Jalan Sultan Jadi Pusat PKL

21 Desember 2018, 13: 04: 05 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Pemandangan pedagang kaki lima di sepanjang jalan kota di Malaysia

Pemandangan pedagang kaki lima di sepanjang jalan kota di Malaysia (Ainul Hafid/Jawa Pos Radar Jombang)

KUALA LUMPUR - Usai menyusuri wisata di Pahang dan Selangor, perjalanan beberapa Jawa Pos Radar Jombang kembali ke Kuala Lumpur. Kini giliran menyambangi Jalan Sultan dan Jalan Petaling yang  dikenal dengan aktivitas jual belinya.

Kata orang pergi ke Malaysia belum lengkap kalau tidak berkunjung ke Jalan Sultan dan Petaling. Ya, memang benar, di dua jalan itu merupakan pusat perbelanjaan yang ada di Kuala Lumpur. Hotel, mall, restoran, plasa, hingga foodcort bertebaran.

Hampir 24 jam non-stop aktivitas jual beli di kedua ruas jalan yang saling berdekatan itu tidak pernah berhenti. Sangat cocok bagi turis asing untuk dijadikan tempat mencari oleh-oleh kala menyambangi Negeri Jiran. Terlebih mencari barang dengan harga yang terbilang miring.

Sebab tidak hanya mall ataupun plasa, para pedagang kaki lima (PKL) juga dengan mudah dijumpai. Terutama di Jalan Petaling notabene kawasan pecinan atau China Town. Bisa dikatakan tempat itu menjadi pusatnya PKL di Kuala Lumpur.

Saking banyaknya lapak-lapak pedagang pun menjamur di pinggir jalan. Tentunya dengan menjajakan aneka ragam makanan dan barang. ’’Dihitung satu per satu ada lebih dari seribu pedagang,’’ kata Ahmed Fuzi salah seorang penjual makanan.

Lelaki usia 63 tahun ini menuturkan, dua jalan itu selama ini menjadi jujukan para turis lokal maupun asing untuk mencari barang atau sekadar mencari makanan ringan. Tentunya karena harganya yang dinilai terjangkau. ’’Makan-makan di sini juga murah," imbuh  warga Cheras Kuala Lumpur ini.

Barang yang dijajakan pedagang pun beragam. Mulai dari aksesoris macam gantungan kunci, pakaian, suvenir, snack dan lainnya. Harga yang ditawarkan juga berbeda-beda. Ada yang dibandrol 3 RM (Ringgit Malaysia) (sekitar Rp 10.500), ada juga 15 RM (sekitar Rp 52.500), hingga puluhan RM. 

Namun harga tersebut tak selalu  jadi patokan, sebab masih bisa ditawar. Karena itu kata Fauzi, para pengunjung pun harus pintar-pintar menawar saat hendak berbelanja di kawasan itu. ’’Kalau bisa tawar sampai separo. Semisal dikasih 30 RM, tawar itu barang 15 RM,’’ tutur dia.

Tak heran selama ini dua kawasan itu selalu ramai dikunjungi para turis. Rata-rata mereka berjalan kaki sembari melihat-lihat barang yang dijajakan pedagang. Menurut dia, kawasan Petaling paling ramai dikunjungi saat sore hingga malam hari.

’’Pukul 16.00 (sekitar pukul 15.00 WIB) warung ini harus sudah buka. Nanti tutup kalau sudah habis atau malam hari,’’ sambung Fuzi yang mengaku sudah berjualan sekira 40 tahun di ruas jalan itu.

Selain mencari buah tangan, pengunjung pun bisa mencari barang-barang bermerek. Hampir semua pedagang di Jalan Petaling menjual barang dengan brand terkenal. Namun tak seluruhnya asli. Sebab sebagian barang yang dijual pedagang barang imitasi atau KW.

’’Memang ada yang asli, ada pula yang KW. Makanya itu harganya bisa ditawar,  tidak seperti di toko. Barang pun ada yang didatangkan dari Indonesia,’’ papar bapak sembilan anak ini.

Untuk itu, dia mengingatkan kala mencari oleh-oleh di Kuala Lumpur harus cermat dan tetap berhati-hati. ’’Mending ke sini saja (Jalan Petaling, Red),’’ imbuh Fuzi.

Selain mencari barang, pengunjung juga bisa menikmati aneka panganan alias berwisata kuliner. Warung Fuzi sendiri menjual aneka makanan Malaysia, ada nasi lemak, teh tarik dan kue tow goreng. Ada pula camilan atau makanan ringan. Harganya pun terbilang ramah di kantong. (Ainul Hafid/bersambung)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia