Selasa, 11 Dec 2018
radarjombang
icon featured
Hukum & Kriminal

Proyek Dana Desa Morosunggingan Dilaporkan ke Polres Jombang

07 Desember 2018, 08: 44: 38 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kondisi proyek pengurukan tanah makam dan gedung pendidikan anak usia dini (PAUD) di Desa Morosunggingan

Kondisi proyek pengurukan tanah makam dan gedung pendidikan anak usia dini (PAUD) di Desa Morosunggingan (M.Nasikhuddin/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Proyek pengurukan tanah makam dan gedung pendidikan anak usia dini (PAUD) di Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan, senilai hampir Rp 100 juta dikeluhkan warga.

Pasalnya material tanah urugnya diduga diambilkan dari endapan sungai, sehingga diduga pelaksanaan proyek yang didanai dana desa (DD) 2017 tersebut tidak sesuai dengan RAB (rencana anggaran biaya).

”Janggal sekali, proyek pengurukan didanai DD tapi materialnya dari sedimen sungai. Padahal di RAB bunyinya beli,” beber Tomo, 47, salah satu warga Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan.

Dijelaskan, sebenarnya pada saat proses pelaksanaan pengurukan, warga pun sudah banyak yang rasan-rasan. Namun warga tidak berani menegur. ”Waktu proses pengurukan, warga tahu jika tanah uruknya diambilkan dari sungai di samping balai desa. Tapi mau menegur tidak berani,” imbuhnya.

Akibat diambilkan dari tanah sungai, hasil di lapangan mengecewakan. ”Kondisi di lapangan, urukannya dipenuhi sampah beragam jenis, ada plastik, bekas pasta gigi, kain bahkan terdapat banyak sampah popok,” bebernya.

Curiga ada yang tidak beres, warga pun berusaha mencari informasi. ”Kebetulan 2018, kita melihat langsung dokumen di RAB, ada anggaran pembelian tanah uruk untuk dua kegiatan proyek tersebut,” bebernya.

Rinciannya, kegiatan pengurukan tanah makam di Dusun Kayen dengan volume 280 meter kubik, dianggarkan sebesar Rp 43,7 juta. Satu lagi, proyek pengurukan tanah rencana gedung PAUD di Dusun Sudimoro, dengan volume sekitar 333 meter kubik dianggarkan sebesar Rp 51,6 juta.

”Total anggaran DD yang keluar untuk dua proyek tersebut mencapai Rp 95 juta lebih,” bebernya. Mengetahui hal tersebut, warga pun berinisiatif meminta klarifikasi ke pemerintah desa dan meminta tanah uruknya diganti sesuai dengan dokumen di RAB, namun hingga kini belum ada tindaklanjut.

”Siapa yang tidak kecewa, apalagi itu untuk pemakaman. Jenazah warga dari rumah dimandikan, disucikan, terus dibawa ke makam, tanahnya banyak sampahnya seperti itu,” keluhnya.

Karena upaya komunikasi buntu, warga pun membawa kasusnya ke ranah hukum. “Sudah kami laporkan ke Polres Jombang, sejumlah barang bukti juga kami lampirkan dalam berkas laporan, termasuk dokumen foto, harapannya kasusnya dibuka dengan terang,” tegasnya.

Pantauan di lokasi (6/12) kemarin, di lokasi proyek urukan tanah makam, permukaannya banyak ditemukan sampah dari beragam jenis, mulai dari plastik, serpihan perabotan rumah tangga termasuk sampah popok.

Tak berbeda dengan lokasi pengurukan tanah yang rencana akan dibangun gedung PAUD, kondisinya pun banyak dipenuhi sampah. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia