Selasa, 11 Dec 2018
radarjombang
icon featured
Kota Santri

Dilewati Lempengan, Wilayah Utara Jombang Berpotensi Gempa

05 Desember 2018, 12: 47: 02 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kepala BPBD Kabupaten Jombang Abdul Wahab

Kepala BPBD Kabupaten Jombang Abdul Wahab (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Lima Kecamatan di wilayah utara Brantas tercatat sebagai kawasan yang berpotensi terjadi gempa. Masing masing Kecamatan Ngusikan, Kudu, Plandaan, Ploso dan Kecamatan Kabuh.

Sebab berdasar catatan BPBD Kabupaten Jombang, di wilayah itu terdapat sesar atau lempengan Ploso. Kepala pelaksana BPBD Jombang Abdul Wahab menjelaskan, dari hasil pemetaan rawan bencana khusus untuk wilayah utara Brantas masuk kategori potensi gempa.

”Kalau wilayah selatan yakni Bareng dan Wonosalam itu potensi longsor, berbeda dengan wilayah utara Brantas yang berpotensi terjadi gempa,” ujarnya saat ditemui kemarin.

Dia menjelaskan, dinamakan lempengan Ploso karena di  lima kecamatan itu terdapat kandungan lumpur. Posisinya berada di bawah permukaan tanah. Keberadaan lumpur itulah yang berpotensi menimbulkan gempa. ”Hanya saja intervalnya lama, dan kita tidak pernah mengetahui,” sambungnya.

Dari catatan histori bencana di Kabupaten Jombang, lanjutnya, wilayah utara Brantas pernah diguncang gempa pada 1836 silam. Saat itu pemerintah mencatat kekuatan gempa mencapai 2,6 sekala richter (SR). Gempa itu kali pertama terjadi dan hingga kini tidak pernah lagi ada gempa.

”Jadi sesuai dokumen tata ruang itu namanya sesar/lempengan Ploso yang sudah tidak aktif. Meski demikian kita harus tetap waspada dan hati hati,” imbuh Wahab.

Pria asli Sumenep ini menguraikan, sesar lempengan Ploso tercacat tidak aktif. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan jika di wilayah tersebut suatu saat akan terjadi gempa.

Hal ini mengaca pada musibah gempa yang terjadi di Palu dan Donggala beberapa bulan lalu, setelah ditelusuri, ternyata diketaui ada histori gempa terakhir yang sangat lama. “Bahkan historinya lama, di Jombang ini kan terjadi 1836. Kalau disana (Donggala) lebih tua lagi,” papar dia.

Bagaimana antisipasi BPBD Jombang? Wahab menyampaikan dalam hal ini sudah memasang Early Warning System (EWS) di sejumlah daerah termasuk utara Brantas. Alat pendeteksi dini gempa bumi tersebut mampu memberikan laporan jika terjadi getaran.

“Itu sudah kita tanam, semisal terjadi apa-apa kami langsung menerima laporan,” jelasnya. Meski sejak 1836 tidak pernah terjadi gempa. Dia tak menampik jika di Kabupaten Jombang sering terjadi lindu atau gempa dengan skala kecil yang tidak menimbulkan kerugian.

”Jadi lindu itu sifatnya sama dengan gempa. Hanya bedanya skala kecil dan tidak berpotensi merusak. Berbeda dengan gempa bumi yang menimbulkan kerusakan,” pungkas dia. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia