Selasa, 11 Dec 2018
radarjombang
icon featured
Kota Santri

Selama 2018 Imunisasi ORI di Jombang Baru Capai 57,58 Persen

04 Desember 2018, 18: 24: 29 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Pelaksanaan imunisasi di salah satu SD negeri di Jombang

Pelaksanaan imunisasi di salah satu SD negeri di Jombang (Wenny Rosaline/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Imunisasi outbreak response immunization (ORI) di Jombang terus dilakukan. Sebanyak 392.240 sasaran imunisasi ORI periode ketiga ini untuk anak usia 1-19 tahun.

Hingga 1 Desember 2018 ini, pencapaian imunisasi ORI masih 57,58 persen. ”Imunisasi ORI periode ketiga masih berjalan sampai pertengahan Desember nanti. Target kami tetap 95 persen,” ujar Pudji Umbaran, Plt Kadinkes Jombang kemarin.

Pencegahan dengan imunisasi ORI bisa dikatakan sukses jika persentase imunisasi ORI sudah mencapai lebih dari 90 persen. Ia menuturkan imunisasi ORI ini dilakukan di Posyandu, sekolah, madrasah pondok dan sebagainya.

”Imunisasi ORI memang kita maksimalkan, ini program bantuan dari Pemprov  Jawa Timur karena memang banyak kasus difteri di Jawa Timur,” jelasnya. Di Jombang sendiri terdapat 10 warga yang menderita difteri awal 2018 ini.

”Alhamdulillah tidak ada kasus baru untuk difteri. Mudah-mudahan tidak ada warga Jombang yang menderita difteri lagi,” tandasnya. Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphteriae ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi.

Terutama pada selaput bagian dalam saluran pernapasan bagian atas, hidung dan juga kulit. Penyakit ini sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada 5-10 persen penderita.

Difteri menular dari manusia ke manusia bila terjadi kontak dengan penderita dan carrier (orang sehat yang terinfeksi difteri namun tetap bisa menularkan kuman difteri).

Penularan dapat melalui percikan ludah yang keluar saat batuk atau bersin, kontak langsung dengan permukaan kulit atau luka terbuka atau kontak dengan benda-benda yang terinfeksi kuman difteri seperti mainan, pakaian, kasur, dan lainnya.

Gejala difteri diantaranya demam hingga 38 derajat celcius, nyeri menelan, adanya pseudomembran selaput berwarna putih keabuan atau kebiruan yang tidak mudah lepas dan mudah berdarah, hidung berair, bengkak di area leher, infeksi di tenggorokan atau kulit dan kesulitan bernafas atau sesak nafas diserta bunyi.

”Kalau ada tanda-tanda seperti itu segera diperiksakan ke puskesmas terdekat, jangan sampai terlambat sebab  difteri sangat berbahaya dan rentan menular,” pungkasnya. (*)

(jo/ric/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia